Tapi karena alasan ekonomi dan rasa bosan yang tidak bisa diatasi.
Nenek tua yang harusnya istirahat di rumah itu ngotot tidak ingin merepotkan anaknya dan terus berjualan.
“Sebenarnya anak saya melarang, ya bagaimana namanya nggak punya dan bosan juga di rumah. Cucu udah pada besar-besar,” jelasnya.
Baca Juga: Beri Motivasi, Rombongan Kapolres Blitar Kota Besuk Anggotanya yang Dirawat di RS Budi Rahayu
“Kalau saya punya lo, ngapain juga saya jualan tikar,” imbuhnya.
Dari senyumnya setiap kali bercerita, perempuan tua ini seperti sudah siap menghadapi apapun persoalan yang sedang dan akan dia hadapi. Dengan lapang dada.
Bagaimana tidak, setiap hari dia bersama bibinya menempuh perjalanan dari Kabupaten Lamongan menuju Jombang dengan menumpang truk besar. Membayar Rp 30 ribu - Rp 35 ribu sekali jalan.
Naik dari daerah tempat tinggalnya kemudian turun di Pasar Legi.
Lalu singgah di sebuah surau tak jauh dari situ untuk menitipkan barang dagangan.
“Hari ini saya bawa 13 sedikit aja, karena belakangan ini sepi. 10 saya tinggal di Mushola dan 3 saya bawa keliling,” sebutnya.
Hari ini dia sudah berkeliling mulai dari Pasar Legi, menuju Jalan KH Wahid Hasyim, kemudian ke Alun-alu dan beristirahat sejenak.
Baca Juga: Tegakan WiFi atau Kabel Swasta yang Berada di Aset Pemkab Ponorogo Bakal Kena Sewa, Kominfo : Maret Sudah Dimulai
“Tapi ini tadi belum laku sama sekali saya berhenti di sini istirahat. Lihat banyak sekali motor itu lo saya takut,” ucapnnya.
Memang siang itu perempatan barat Alun-alun sedangan sangat sibuk.
Ratusan kendaraan menumpuk, semuanya tidak sabar untuk segera menuju tujuannya masing-masing.
Terlihat suasana mulai lengang dan terik siang mulai bersahabat, tidak sepanas sebelumnya. Asma hendak meneruskan perjalanan.
Setelah berjalan nanti ia kembali lagi ke Mushola temapatnya menitip tikar sekalian sholat dan tidur.
Selanjutnya pulang ke Lamongan, tapi meninggalkan barang dagangan di Mushola untuk besok dijual lagi.
“Kalau masih ada saya titip dulu di Mushola. Sekiranya habis saya bawa lagi besok, tapi kayaknya besok jual yang tersisa ini,” lanjutnya.
Untuk satu tikar ukuran besar ia membanderol Rp 80 ribu hingga Rp 90 ribu, untuk ukuran kecil Rp 50 hingga Rp 60 ribu.
Baca Juga: Jalan Brosem Kota Batu Digelontor Lagi Rp 9 Miliar, Ini Targetnya
Penghasilan yang dia bawa pulang setiap haripun tidak menentu.
Kadang tidak membawa sama sekali. Terkadang Rp100 ribu sampai Rp 300 ribu.
“Kadang belum habis gini saya sudah pulang, kadang Rp100 ribu sampai Rp 300 ribu. Itu nanti uangnya diputar lagi untuk modal dan sebagian lagi untuk kebutuhan,” pungkasnya.
Kemudian tubuh ringkihnya meninggalkan trotoar, merapatkan gendongan dan kembali melempar senyuman tegar. Kembali berjalan menyusuri jalan.
Reporter Agung Pamungkas
Editor Achmad Saichu
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: koranmemo.com
Artikel Terkait
MBG di Boyolali Disabotase: Ratusan Paket Ditarik, Ada Orang Asing Masuk Kelas!
Biar Bosmu Tahu! Viral Bobby Nasution Razia Truk Pelat Aceh di Sumut Demi Kejar PAD Triliunan
VIRAL Kain Kafan dan Kerangka Manusia Berserakan di Area Proyek Tangerang
Fakta-Fakta Kesiapan IKN Jadi Ibu Kota Politik 2028, Cuma Cuap-Cuap Belaka?