Politik Dua Kaki Saudi: MBS Serukan Solidaritas Muslim, Menhan Desak AS Serang Iran
Media Axios melaporkan, Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman (KBS), memberikan peringatan keras kepada Amerika Serikat. Dalam pengarahan tertutup di Washington, KBS menyatakan bahwa Iran akan semakin kuat jika Presiden AS Donald Trump tidak menindaklanjuti ancaman serangan militernya.
Pernyataan ini menandai pergeseran sikap yang mencolok dari pihak Kerajaan. Tiga pekan sebelumnya, Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) justru dilaporkan mendesak Trump untuk menghindari aksi militer yang berisiko memicu konflik luas.
Pertemuan di Washington Tanpa Kejelasan Strategi
Kunjungan KBS ke Washington berlangsung saat AS meningkatkan kekuatan militernya di Teluk. Meski bertemu dengan pejabat tinggi AS seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, KBS disebut meninggalkan pertemuan tanpa kejelasan mengenai strategi atau niat pemerintahan Trump.
Dalam forum tertutup lainnya, Menhan Saudi itu mengungkapkan kekhawatiran bahwa kegagalan AS bertindak militer justru akan memicu keberanian Iran. Sikap ini bertolak belakang dengan narasi publik Riyadh.
Narasi Publik MBS: Solidaritas Muslim dan Penolakan Perang
Secara terbuka, Arab Saudi melalui MBS menyampaikan pesan yang sangat berbeda. Dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, MBS menegaskan penghormatan terhadap kedaulatan Iran.
"Arab Saudi tidak akan mengizinkan penggunaan wilayah udaranya atau wilayah teritorialnya untuk aksi militer apa pun terhadap Iran oleh pihak mana pun," tegas MBS, seperti dilaporkan Kantor Berita Saudi (SPA). Ia juga menekankan komitmen pada solusi diplomatik untuk stabilitas kawasan.
Artikel Terkait
Klaim Dokumen Epstein: Bill Gates Tertular STD dari Gadis Rusia? Fakta & Bantahan
Said Didu Ungkap Isi Pertemuan dengan Prabowo: Bahas Reformasi Polri hingga Gaza
Daftar Lengkap Nama Besar dalam Dokumen Epstein: Elon Musk, Pangeran Andrew, hingga Richard Branson
Iran Siapkan Kuburan Massal untuk Tentara AS: Persiapan Perang atau Pesan Politik?