Terlepas dari berbagai dinamika dan isu yang menyertai, fakta menunjukkan pasangan tersebut menang dengan margin yang signifikan. Jokowi dianggap tidak akan mengambil langkah gegabah, seperti mencalonkan Gibran melawan Prabowo tanpa perhitungan yang matang. Ia lebih memilih untuk memastikan peluang menang hingga detik terakhir.
Meski demikian, dunia politik kontestasi tidak selalu hitam putih. Ada contoh di mana kandidat dengan elektabilitas rendah di awal justru mampu meraih kemenangan, seperti yang terjadi pada Pramono Anung melawan Ridwan Kamil atau Anies Baswedan melawan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Pilkada DKI Jakarta.
Politik kontestasi juga tidak selalu berorientasi pada kemenangan mutlak. Terkadang, seseorang ikut bertarung dengan tujuan lain, seperti meningkatkan suara partai di tingkat legislatif atau sekadar menunjukkan eksistensi. Oleh karena itu, strategi ala Sun Tzu yang dianggap diterapkan Jokowi mungkin tidak sepenuhnya berlaku untuk kontestasi serentak 2029, di mana medan pertarungan lebih kompleks dan syarat pencalonan lebih mudah.
Analisis ini menunjukkan bahwa kesuksesan Jokowi dalam politik elektoral tidak lepas dari perhitungan strategis yang sangat matang dan kehati-hatian dalam mengambil langkah, sebuah pelajaran berharga dalam membaca peta politik Indonesia.
Artikel Terkait
SMA Siger Bandar Lampung Izinnya Ditolak, Siswa Harus Pindah Sekolah
Presiden Prabowo Jelaskan Alasan Indonesia Gabung Board of Peace, Dapat Dukungan Ormas Islam
Fakta Nama Sri Mulyani di Epstein File: Ternyata Terkait Jabatan di Bank Dunia, Bukan Kasus Kriminal
Kasus Ijazah Jokowi: Kuasa Hukum RRT Sebut Persidangan Masih Jauh, Ini Alasan dan Timeline