Asia Tengah sendiri kini menjadi kunci bagi proyek BRI China yang bernilai triliunan dolar, sebuah proyek geopolitik yang menentukan untuk Xi.
Sekitar 150 negara telah menerima dana China untuk membangun jalan, pelabuhan, rel kereta api, atau bendungan pembangkit listrik tenaga air.
Meski begitu, sebenarnya terobosan China ke Asia Tengah tidak selalu populer.
Pada tahun 2019, protes pecah di Kazakhstancatas anggapan ekspansionisme China di negara tersebut.
Tahun berikutnya, seorang investor China yang telah berencana menggelontorkan hampir US$300 juta ke pusat perdagangan dan logistik di Kyrgyzstan, keluar dari proyek. Protes lokal menjadi penyebab.
Di satu sisi, Beijing mengatakan bahwa inisiatif tersebut bertujuan untuk memperdalam hubungan perdagangan yang bersahabat, terutama dengan negara berkembang.
Tetapi para kritikus telah lama menuduh China memikat negara-negara berpenghasilan rendah ke dalam perangkap utang dengan menawarkan pinjaman besar yang tidak terjangkau.
Pembangunan China juga dipandang sebagai model di kawasan itu. Tetapi banyak yang khawatir bahwa pendekatan Beijing pada dasarnya ekstraktif.
Beijing mengatakan bahwa perdagangan dengan Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan mencapai US$70 miliar (sekitar Rp1.037 triliun) pada 2022. Ini meningkat 22% year-on-year pada kuartal pertama 2023. [IndonesiaToday/cnbc]
Sumber: cnbcindonesia.com
Artikel Terkait
Kasus Ijazah Jokowi: Kuasa Hukum RRT Sebut Persidangan Masih Jauh, Ini Alasan dan Timeline
Farhat Abbas Ungkap Eggi Sudjana Ingin Damai Soal Kasus Ijazah Jokowi: Fakta Terbaru
MUI Dukung Prabowo Gabung Dewan Perdamaian Gaza Trump: Syarat & Analisis Lengkap
Strategi Politik Jokowi: Rahasia Tak Pernah Kalah Menurut Prinsip Sun Tzu