“Ini merupakan tindakan yang buruk. Sekelas presiden seharusnya menjaga netralitas sebagai kepala negara dengan tidak melakukan tindakan yang mencederai demokrasi,” terangnya kepada wartawan, Kamis (23/11).
Baca Juga: Imparsial Bangun Koalisi Sipil Cegah Kemunduran Demokrasi dan Politik Dinasti
Dia menegaskan, mahasiswa Jakarta, khususnya UBK sangat menolak tindakan Presiden Jokowi membangun dinasti politik. Salah satunya dengan memasangkan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka sebagai Cawapres pendamping Prabowo Subianto. Juga memasangkan putra bungsunya, Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum PSI.
“Telah terbukti nyata, karena dia menggunakan ketua MK (Anwar Usman) untuk melenggangkan segala cara agar anaknya bisa menjadi cawapres, dan tindakan itu sangat buruk karena memperalat lembaga yudikatif yang dimana lembaga tersebut sebagai penegak hukum tertinggi,” tegas Mahesa.
Belakangan, gerakan mahasiswa yang menolak politik dinasti memang bermunculan di sejumlah daerah pasca Gibran resmi menjadi cawapres pendamping Prabowo di Koalisi Indonesia Maju (KIM). Hari ini, puluhan kampus di Yogyakarta juga menggelar mimbar demokrasi di kampus ISI, Yogyakarta. Mereka sepakat menolak politik dinasti dan neo orba.
Sumber: jawapos
Artikel Terkait
Analisis Motif Jokowi Bekerja Mati-Matian untuk PSI: Demi Gibran 2034 & Karier Kaesang?
Desakan Pencopotan Dahnil Anzar: Kronologi Polemik Kata Cangkem ke Buya Anwar Abbas
Desakan Copot Dahnil Anzar: Aktivis Muhammadiyah Protes Ucapan Kasar ke Anwar Abbas
PBNU Kecam Dahnil Anzar: Pernyataan ke Anwar Abbas Dinilai Tak Beradab, Ini Kata Katib Syuriyah