NARASIBARU.COM -Rasa trauma jagoannya kalah melawan Anies Baswedan membuat Presiden Joko Widodo merasa perlu ikut cawe-cawe di Pilpres 2024. Tujuannya, agar kekalahan yang sama tidak kembali terjadi.
Direktur Pusat Riset Politik, Hukum dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam mengatakan, pernyataan cawe-cawe Jokowi merupakan bentuk kepanikan, sehingga harus melontarkan kata-kata yang menjadi bahasa kalbunya.
"Ini kan bentuk sebuah kepanikan Jokowi sehingga tidak dapat ditutup-tutupi oleh siapapun. Jokowi mengkhawatirkan adanya sesuatu yang akan menghambat apa yang telah coba dilakukan pada saat pemerintahannya," ujar Saiful kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (2/6).
Akademisi Universitas Sahid Jakarta ini menilai, sikap Jokowi tersebut sangat berlebihan, karena Jokowi sudah dua periode, sehingga seharusnya tidak ada kepentingan lagi selain memberikan legacy yang baik di ujung pemerintahannya.
Artikel Terkait
Analisis Motif Jokowi Bekerja Mati-Matian untuk PSI: Demi Gibran 2034 & Karier Kaesang?
Desakan Pencopotan Dahnil Anzar: Kronologi Polemik Kata Cangkem ke Buya Anwar Abbas
Desakan Copot Dahnil Anzar: Aktivis Muhammadiyah Protes Ucapan Kasar ke Anwar Abbas
PBNU Kecam Dahnil Anzar: Pernyataan ke Anwar Abbas Dinilai Tak Beradab, Ini Kata Katib Syuriyah