Ancaman Balasan dari Iran dan Peringatan AS
Iran langsung merespons ancaman intervensi AS dengan keras. Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa kepentingan Israel dan AS di Timur Tengah akan menjadi "target yang sah" jika Washington menyerang.
Di sisi lain, Presiden Trump melalui platform Truth Social menegaskan kesiapan AS untuk membantu, dengan menyatakan, "Iran sedang mengincar KEBEBASAN, mungkin tidak seperti sebelumnya. AS siap membantu!!!". Pernyataan ini memperkuat ancamannya untuk "menyelamatkan" pengunjuk rasa jika pemerintah Iran membunuh mereka.
Latar Belakang dan Eskalasi Protes di Iran
Gelombang protes yang kini memasuki minggu kedua ini merupakan yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Awalnya dipicu oleh jatuhnya nilai mata uang Iran, aksi demonstrasi dengan cepat berkembang menjadi tuntutan reformasi politik dan penggulingan pemerintah.
Otoritas Iran merespons dengan tindakan keras. Jaksa Agung menyatakan pengunjuk rasa bisa dituduh sebagai "musuh Tuhan" yang ancaman hukumannya adalah hukuman mati. Polisi juga melaporkan telah melakukan penangkapan besar-besaran terhadap unsur-unsur kunci gerakan protes.
Pemerintah mengumumkan tiga hari berkabung nasional dan mendesak masyarakat mengikuti "pawai perlawanan nasional" untuk mengecam kekerasan, yang mereka sebut sebagai aksi "penjahat teroris perkotaan".
Situasi ini menempatkan ketegangan AS-Iran pada titik yang sangat rawan, dengan potensi intervensi militer AS yang dapat memicu konflik regional yang lebih luas, terutama dengan keterlibatan kepentingan Israel yang juga berada dalam kewaspadaan tinggi.
Artikel Terkait
Viral Video Wanita Joget Pegang Ikan Pesut Mahakam Langka, Netizen Geram & Ancaman Hukumnya
Keracunan Massal di Mojokerto: 261 Siswa Terdampak Soto Ayam MBG, Ini Data & Penyebabnya
Denada Buka Suara Soal Gugatan Anak Kandung Rp 7 Miliar: Fakta dan Pernyataan Resmi
Rusia Klaim Tembak Jatuh Jet F-16 Ukraina: Analisis Klaim dan Dampak Perang