Pernyataan Kapolri tentang mempertahankan posisi "sampai titik darah penghabisan" dinilai Gatot sebagai bahasa konflik dan bentuk intimidasi yang tidak pantas.
Pesan Implisit dan Tuduhan "Bullying" kepada Presiden
Gatot Nurmantyo menduga ada pesan terselubung dari pernyataan Kapolri. "Pesan implisitnya jelas kepada Presiden: Jangan sentuh struktur Polri. Pernyataan ini menciptakan tekanan atau 'bullying' kepada Presiden sebagai pemegang mandat konstitusional tertinggi," tegas Gatot.
Dinilai Merusak Marwah Institusi dan Etika Kesatuan
Sebagai sesama lulusan Akademi Militer, Gatot menyatakan tindakan Kapolri Listyo Sigit Prabowo dianggap tidak beretika. Ia menilai hal tersebut dapat merusak marwah institusi Polri yang seharusnya dijaga.
Peringatan "Alarm Darurat Demokrasi"
Mantan Panglima TNI itu memperingatkan bahwa situasi ini adalah alarm darurat bagi demokrasi Indonesia. Gatot menilai Kapolri sedang menguji batas kewenangan Presiden dan melakukan tindakan yang ia sebut sebagai pengkhianatan terhadap konstitusi, yang didukung oleh oknum anggota DPR.
Kritik dari purnawirawan tinggi seperti Gatot Nurmantyo ini menyoroti dinamika hubungan antara institusi TNI, Polri, dan kepemimpinan nasional, yang menjadi perhatian publik.
Artikel Terkait
Longsor Bandung Barat: 60 Kantong Jenazah Ditemukan, 20 Korban Masih Hilang
Fakta Tabung Whip Pink di Apartemen Lula Lahfah: Pengantar & Hasil Penyidikan Polisi
Denada Akui Ressa Anak Kandung, Pengacara Bongkar Fakta Hidup Mewah dan Bantah Penelantaran
Jokowi Buka Suara Soal Kasus Korupsi Haji: Setiap Kasus Selalu Kaitkan Nama Saya