Diplomasi Hegemoni AS: Ancaman Militer ke Iran dan Jalan Buntu Politik Global
Pergerakan Gugus Tugas Kapal Induk USS Abraham Lincoln menuju Teluk Persia pada awal 2026, disertai peringatan keras dari mantan Presiden AS Donald Trump kepada Iran, mempertanyakan efektivitas penyelesaian konflik internasional di abad ke-21. Pendekatan ini mencerminkan skrip diplomasi hegemoni Amerika Serikat yang berulang, mengandalkan paksaan dan superioritas militer sebagai alat utama.
Pola Berulang Diplomasi Ancaman AS dalam Hubungan Internasional
Sejarah menunjukkan pola konsisten AS dalam menangani sengketa: menggunakan keunggulan ekonomi dan militer untuk intimidasi, menetapkan prasyarat sepihak, dan memaksa lawan dengan ultimatum "terima atau hadapi konsekuensi". Dari Irak, Suriah, Venezuela, hingga Iran, ancaman kekuatan militer menjadi pilihan pertama. Strategi "memegang pentungan" ini bukan diplomasi, melainkan ancaman terbuka yang mengikis ruang dialog.
Dampak Negatif Pola Pikir Hegemoni terhadap Keamanan Global
Pendekatan hegemoni meremehkan harga diri nasional dan kedaulatan negara lain. Bagi Iran, sebagai peradaban dengan sejarah panjang, tekanan militer justru menguatkan ketahanan nasional. Pencegahan militer sering memicu eskalasi ketegangan, menciptakan dilema keamanan dan melemahkan institusi multilateral. Pola pikir "kekuatan adalah kebenaran" mendorong dunia ke arah kompetisi primitif yang berbahaya.
Artikel Terkait
Surat Bunuh Diri Anak SD di NTT: Dampak Kemiskinan pada Kesehatan Mental Anak
Saif al-Islam Gaddafi Tewas Ditembak: Kronologi, Profil, dan Dampaknya bagi Libya
SMA Siger Bandar Lampung Izinnya Ditolak, Siswa Harus Pindah Sekolah
Presiden Prabowo Jelaskan Alasan Indonesia Gabung Board of Peace, Dapat Dukungan Ormas Islam