Dengan menggunakan jet tempur F-16, Israel menembak jatuh Ababil pertama pada tanggal 7 Agustus 2006 di lepas pantai Israel Utara. Pada tahun 2009, ada spekulasi bahwa Hizbullah memiliki simpanan UAV Ababil, dengan perkiraan yang berbeda-beda menyebutkan jumlahnya antara 12 hingga 24–30 unit.
Ababil 2 mengandalkan sistem kendali berbasis GPS, yang memungkinkan drone terbang di sepanjang rute yang telah ditentukan, dan secara mandiri kembali ke ground control station dan mendarat menggunakan parasut. Ababil diluncurkan dari catapult dengan sokongan pendorong roket atau kekuatan udara terkompresi.
Drone ini juga dapat digunakan sebagai target drone dalam latihan angkatan udara, atau dilengkapi dengan 40 kg bahan peledak, yang menjadikan Ababil 2 sebagai drone kamikaze (loitering munition).
Diproduksi oleh Iran Aircraft Manufacturing Industrial Company (HESA), Ababil 2 ditenagai satu unit mesin piston WAE-342 dua silinder dengan kekuatan 25 hp. Berkat dua bilah propeller, drone ini dapat melesat dengan kecepatan masksimum 370 km per jam dan kecepatan jelajah 250 – 350 km per jam. Dengan kapasitas bahan bakar penuh 16 liter, Ababil 2 dapat menjelajah sejauh 120 km.
Endurance Ababil 2 mencapai dua jam dan ketinggian terbang mencapai 3.000 meter. Payload yang bisa dibawa mencapai 40 kg, sementara bobot kosong drone 30 kg dan berat maksimum saat tinggal landas dipatok 83 kg. Ababil 2 punya panjang keseluruhan 2,88 meter, lebar bentang sayap 3,25 meter dan tinggi 0,91 meter.
Sumber: indomiliter
Artikel Terkait
MUI Dukung Prabowo Gabung Dewan Perdamaian Gaza Trump: Syarat & Analisis Lengkap
Strategi Politik Jokowi: Rahasia Tak Pernah Kalah Menurut Prinsip Sun Tzu
Ressa Rizky Rossano Dituding Tolak Akui Anak, Mantan Istri Bongkar Fakta Pernikahan
Dharma Pongrekun Viral, Warganet Minta Maaf Usai Rilis Epstein Files: Fakta Lengkap