"Bikin aja, misalnya survei. Tanya aja publik ke TikTokers dan Twitter yang main sosial media. Menurut kalian siapa yang layak untuk jadi panelis? itu lebih berguna," ucap Rocky Gerung.
Bahkan dia sebutkan di daerah banyak Panelis yang pintar-pintar itu. Jadi sebetulnya, kata Rocky Gerung, yakni membahas isu dan isi pemikiran si kandidat, bukan dabat sekadar antara Capres dan Cawapres.
"Tetapi ada tim yang mengulas hasil debat itu," pungkas Rocky Gerung.
Di samping itu, Rocky Gerung mengungkapkan, bahwa debat Capres-cawapres itu sedikit mempengaruhi opini publik.
"Sebab, di publik di Amerika sudah punya standing point, kalau uda di Demokrat yasudah, apapun yang diucapkan calon Demokrat sudah pasti benar, begitu juga sebaliknya juga Republik," jelasnya.
"Tapi di kita di Indonesia, ada satu pembelahan ideoligis yang ketat, kadang kala calon wong cilik justru membela kepentinga olegarki, kan ngacokan, demikian sebaliknya itu," sambungnya menjelaskan. (aag)
Maka dari itu, kata Rocky Gerung menunggu moderator, apakah mampu untuk menuntun perdebatan itu dan betul-betul terlihat distingsi ide itu, ketajaman dalam gagasan.
"Jadi, itu aja yang mau ditonton publik," pungkas Rocky Gerung.
Sumber: tvOne
Artikel Terkait
Saif al-Islam Gaddafi Tewas Ditembak: Kronologi, Profil, dan Dampaknya bagi Libya
SMA Siger Bandar Lampung Izinnya Ditolak, Siswa Harus Pindah Sekolah
Presiden Prabowo Jelaskan Alasan Indonesia Gabung Board of Peace, Dapat Dukungan Ormas Islam
Fakta Nama Sri Mulyani di Epstein File: Ternyata Terkait Jabatan di Bank Dunia, Bukan Kasus Kriminal