VIRAL Seorang Wanita di Kerinci Ngamuk Masuk Masjid, Protes Suara Mikrofon

- Sabtu, 20 Juli 2024 | 22:31 WIB
VIRAL Seorang Wanita di Kerinci Ngamuk Masuk Masjid, Protes Suara Mikrofon


Dalam unggahan video viral tersebut terlihat seorang wanita mengenakan baju tidur itu keluar dari dalam masjid nampak mengamuk usai protes atas kebisingan mikrofon masjid di dekat rumahnya.


Wanita tersebut juga menuai geram sejumlah warga yang baru saja melaksanakan salat Maghrib berjamaah di masjid. Sayangnya, saat ditegur ia justru tak terima dan emosi hingga menimbulkan adu mulut dengan jemaah masjid.


Menurut keterangan yang dibagikan di media sosial tersebut, diketahui bahwa peristiwa itu terjadi sekitar saat salat Magrib berlangsung.  Lebih lanjut diketahui dari informasi yang dihimpun, bahwa mendengar gaya bahasanya diduga ini terjadi di daerah Kerinci wilayah Hilir, Provinsi Jambi.


Reaksi Warganet


Viralnya unggahan video tersebut di media sosial ini pun sukses mengundang reaksi warganet.


"bukan panas . Tapi berisik ibadah ga haruss kenceng* suaranya . Yg penting hati dan niatnya berdoa ibadah pasti uda tembuss ke langitt ke 7," tulis warganet.


"Saya muslim, saya sholat 5 waktu di masjid , tapi yang saya perhatiin kebanyakan memang klo untuk di lingkungan saya aja kadang ada org sholawatan ga jelas apa kayak teriak2 , menurut saya kita sebegai muslim lebih baik speaker luar untuk adzan sama iqomah aja selebih nya pakai speaker dalam aja kayak mau sholawat dll," timpal lainnya.


"Udah bener speaker luar atau toa hanya utk Adzan dan Iqomah, bisa jg buat ketika sholat dg kondisi jama'ah ada yg sampe di masjid supaya yg diluar kedengeran cukup itu. Selebihnya pakai speaker dalam masjid. Alangkah baiknya jg setelah adzan itu speakernya jangan dipakai utk puji pujian atau sholawatan, karena ada mereka yg sedang berdo'a atau sholat qobliyah atau sholat sunnah biasanya supaya mereka lebih khusyuk dlm sholat," seru lainnya.



Halaman:

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

JOKO Widodo alias Jokowi sudah lengser. Tak lagi punya kekuasaan. Presiden bukan, ketua partai juga bukan. Di PDIP, Jokowi pun dipecat. Jokowi dipecat bersama anak dan menantunya, yaitu Gibran Rakabuming Raka dan Bobbby Nasution. Satu paket. Anak bungsu Jokowi punya partai, tapi partainya kecil. Yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Partai gurem ini tidak punya anggota di DPR RI. Di Pemilu 2024, partai yang dipimpin Kaesang ini memperoleh suara kurang dari empat persen. Pada posisi seperti ini, apakah Jokowi lemah? Jangan buru-buru menilai bahwa Jokowi lemah. Lalu anda yakin bisa penjarakan Jokowi? Sabar! Semua ada penjelasan ilmiahnya. Semua ada hitung-hitungan politiknya. Manusia satu ini unik. Lain dari yang lain. Langkah politiknya selalu misterius. Tak mudah ditebak. Publik selalu terkecoh dengan manuvernya. Anda tak pernah menyangka Gibran jadi walikota, lalu jadi wakil presiden sebelum tugasnya sebagai walikota selesai. Anda tak pernah menyangka Kaesang jadi ketum PSI. Prosesnya begitu cepat. Tak ada yang prediksi Airlangga Hartarto mundur mendadak dari ketum Golkar. Anda juga tak pernah menyangka suara PDIP dan Ganjar Pranowo dibuat seragam yaitu 16 persen di Pemilu 2024. Persis sesuai yang diinginkan Jokowi. Anda nggak pernah sangka UU KPK direvisi. UU Minerba diubah. Desentralisasi izin tambang diganti jadi sentralisasi lagi. Omnibus Law lahir. IKN dibangun. PIK 2 jadi PSN. Bahkan rektor universitas dipilih oleh menteri. Ini out of the box. Nggak pernah ada di pikiran rakyat. Tapi, semua dengan begitu mudah dibuat. Mungkin anda nggak pernah berpikir mobil Esemka itu bodong. Anda juga nggak pernah menyangka ketua FPI dikejar dan akan dieksekusi oleh aparat di jalanan. Juga nggak pernah terlintas di pikiran ada Panglima TNI dicopot di tengah jalan. Ini semua adalah langkah out of the box. Tak pernah terlintas di kepala anda. Di kepala siapa pun. Ketika anda berpikir Jokowi melemah pasca lengser, ternyata orang-orang Jokowi masuk kabinet. Jumlahnya masih cukup banyak dan signifikan. Ketua KPK, Jaksa Agung dan Kapolri sekarang adalah orang-orang yang dipilih di era Jokowi. Ketika anda tulis Adili Jokowi di berbagai tempat, Kaesang, anak Jokowi justru pakai kaos putih bertuliskan Adili Jokowi. Pernahkah Anda menyangka ini akan terjadi? Teriakan Adili Jokowi kalah kuat gaungnya dengan teriakan Hidup Jokowi. Ini tanda apa? Jelas: Jokowi masih kuat dan masih punya kesaktian. Semoga pemimpin zalim seperti Jokowi Allah hancurkan. inilah doa sejumlah ustaz yang seringkali kita dengar. Apakah Jokowi hancur? Tidak! Setidaknya hingga saat ini. Esok? Nggak ada yang tahu. Dan kita bukan juru ramal yang pandai menebak masa depan nasib orang. Kalau cuma 1.000 sampai 2.000 massa yang turun ke jalan untuk adili Jokowi, nggak ngaruh. Ngaruh secara moral, tapi gak ngaruh secara politik. Beda kalau satu-dua juta mahasiswa duduki KPK, itu baru berimbang. Emang, selain 1998, pernah ada satu-dua juta mahasiswa turun ke jalan? Belum pernah! Massa mahasiswa, buruh dan aktivis saat ini belum menemukan isu bersama. Isu Adili Jokowi tidak terlalu kuat untuk mampu menghadirkan satu-dua juta massa. Kecuali ada isu lain yang menjadi triggernya. Contoh? Gibran ngebet jadi presiden dan bermanuver untuk menggantikan Prabowo di tengah jalan, misalnya. Ini bisa memantik kemarahan massa untuk terkonsentrasi kembali pada satu isu. Contoh lain: ditemukan bukti yang secara meyakinkan mengungkap kejahatan dan korupsi Jokowi, misalnya. Ini bisa jadi trigger isu. Ini baru out of the box vs out of the box. Tagar Adili Jokowi bisa leading. Kalau cuma omon-omon, ya cukup dihadapi oleh Kaesang yang pakai kaos Adili Jokowi. Demo Adili Jokowi lawannya cukup Kaesang saja. Jokowi terlalu tinggi untuk ikut turun dan menghadapinya. Sampai detik ini, Jokowi masih terlalu perkasa untuk dihadapi oleh 1.000-2.000 massa yang menuntutnya diadili. rmol.id *Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Terkini