Menurut Didik, pasangan Anies-Ahok adalah eksperimen yang baik dan berani bagi keduanya.
Menurutnya, penggabungan Anies-Ahok bisa juga dilakukan untuk membersihkan pencitraan politik polarisasi radikal agama atau radikal sekuler.
"Radikal sekuler di sini mirip-mirip radikal kiri yang anti-agama," kata Didik, dikutip Sabtu (11/5/2024).
Didik berpendapat bahwa politik dan demokrasi yang terbuka seperti sekarang ini adalah pertanda baik, paling tidak dilihat dari sisi persepsi citra.
Menyinggung soal peluang Anies dan Ahok bersatu, dia mengutarakan bahwa penyatuan keduanya sangat mungkin.
Menurutnya, Anies adalah orang religius tetapi tidak radikal seperti yang banyak tergambar ketika Pilgub DKI Jakarta 2017.
Selain itu, Ahok memang sosok yang tempramental yang bisa jadi tabu dalam politik.
Namun, ia menilai Ahok adalah sosok yang nasionalis dilihat dari rekam jejak politiknya.
Artikel Terkait
Analisis Motif Jokowi Bekerja Mati-Matian untuk PSI: Demi Gibran 2034 & Karier Kaesang?
Desakan Pencopotan Dahnil Anzar: Kronologi Polemik Kata Cangkem ke Buya Anwar Abbas
Desakan Copot Dahnil Anzar: Aktivis Muhammadiyah Protes Ucapan Kasar ke Anwar Abbas
PBNU Kecam Dahnil Anzar: Pernyataan ke Anwar Abbas Dinilai Tak Beradab, Ini Kata Katib Syuriyah