Beberapa media Rusia juga melaporkan bahwa kelompok tentara bayaran tersebut berhasil menguasai semua fasilitas militer di kota Voronezh, yang berjarak sekitar 310 mil selatan Moskow.
Sebelum melakukan blokade itu, pada Jumat malam, Prigozhin mengklaim bahwa serangan roket Rusia telah menewaskan puluhan anggota kelompoknya dan ia bersumpah untuk melakukan balas dendam serta menghentikan kejahatan yang dibawa oleh kepemimpinan militer negara, yang memulai guncangan di Rusia.
Dalam deklarasi perang virtual melawan saingannya di militer Rusia, Prigozhin menyatakan bahwa ia memiliki 25.000 pejuang yang telah ia ajak untuk bergabung, untuk mengakhiri kekacauan yang terjadi di negara tersebut.
Namun, layanan keamanan Rusia segera merespons dengan cepat terhadap aksi Prigozhin, yang menyebutnya sebagai pengkhianatan dan memerintahkan para anggota kelompok tentara bayaran untuk menahan komandan mereka.
Kementerian Pertahanan juga merilis video yang menampilkan beberapa jenderal tinggi untuk mendesak Prigozhin agar ia menghentikan apa yang mereka gambarkan sebagai kudeta.
"Ini adalah tikaman di belakang negara dan presiden. Ini adalah kudeta," kata wakil kepala Badan Intelijen Militer Rusia, Jenderal Vladimir Alekseyev, dalam video seruan kepada anggota kelompok Wagner.
Sumber: rmol
Artikel Terkait
Dokumen Epstein Ungkap Hubungan Hary Tanoe & Trump, Misteri Indonesian CIA Terbongkar
Dokumen Epstein Ungkap Kunjungan ke Bali 2002 dan Tautan ke Donald Trump
10 Surat Tanah Tidak Berlaku 2026: Segera Urus Sertifikat di BPN!
5 Rekomendasi Bare Metal Server Terbaik 2024 untuk SaaS dan Startup