Gimah yang tinggal di Dusun Gumukmas menceritakan kembali detik-detik mencekam saat erupsi melanda wilayahnya. Baginya, suara gemuruh dan hujan abu panas adalah pengalaman yang tak terlupakan.
"Awalnya saya pikir lahar biasa, jadi saya tidak ke mana-mana. Tapi kok semakin lama semakin besar. Saya lari ke Supiturang, debunya semakin besar dan panas," kenangnya.
Beruntung, rumah yang ia tempati bersama suaminya tidak mengalami kerusakan parah. "Alhamdulillah rumah tidak ada yang rusak, cuma bagian depan saja. Sekarang masih November, jadi tidak menyangka (akan erupsi lagi)," tambah Gimah.
Upaya Mitigasi Bencana oleh TNI di Lumajang
Sementara celoteh Gimah viral sebagai hiburan, TNI melalui Korem 083/Baladhika Jaya tetap bekerja serius di lapangan untuk memastikan keselamatan warga. Personel TNI dikebut melakukan revitalisasi aliran lahar dan pembangunan tanggul penahan.
Peltu Suwandi, personel Penerangan Korem Baladhika Jaya, menjelaskan bahwa penggunaan alat berat difokuskan untuk membuat benteng pertahanan dari terjangan lahar susulan.
"Alat-alat berat di belakang ini sedang membuat tanggul. Harapannya, jika ada erupsi susulan, material lahar tidak meluber ke pemukiman warga di Desa Supiturang," tegas Peltu Suwandi.
Kisah Gimah ini menjadi potret nyata kehidupan warga di kaki gunung berapi, di antara ketakutan dan upaya bertahan, yang terselip harapan dan humor di tengah bencana.
Artikel Terkait
Video Batang Timur 16 Detik Viral: Fakta, Modus Love Scam & Bahaya
Aurelie Moeremans Buka Suara: Kisah Grooming di Usia 15 Tahun dan Keterkaitan Roby Tremonti
Dana Bencana Rp51 Triliun Dipertanyakan: Potensi Korupsi dan Transparansi Anggaran
Roy Suryo Cs Tagih Dasar Hukum Surat Penyetaraan Ijazah Gibran ke Kemendikdasmen