Dampak Perang AS vs Iran: Mengapa Negara Timur Tengah Sangat Khawatir?

- Minggu, 25 Januari 2026 | 20:50 WIB
Dampak Perang AS vs Iran: Mengapa Negara Timur Tengah Sangat Khawatir?

“Para pemimpin regional umumnya melihat Iran saat ini sebagai negara yang tertekan, namun masih diperintah oleh negara yang terpusat. Kekacauan atau perubahan rezim pasca-perang justru lebih menakutkan,” jelas Karim Emile Bitar, dosen Studi Timur Tengah di Sciences Po Paris.

Israel, Iran, dan Pergeseran Ancaman di Mata Negara Arab

Dinamika geopolitik terbaru semakin memperkuat kekhawatiran ini. Pasca Oktober 2023, banyak negara Arab mulai memandang Israel—bukan Iran—sebagai ancaman utama stabilitas regional. Persepsi ini menguat setelah Perang 12 Hari Juni 2025, di mana serangan Israel menggagalkan negosiasi nuklir AS-Iran.

“Sejak AS melonggarkan pembatasan terhadap Israel, kebijakan luar negeri Israel yang agresif mulai dilihat sebagai ancaman langsung yang tak terkendali. Jika aliansi dengan AS tidak melindungi Anda dari hegemoni Israel, maka Anda butuh koalisi baru untuk menyeimbangkannya,” kata Trita Parsi dari Institut Quincy.

“Dalam persamaan ini, Iran berfungsi sebagai penyangga terhadap Israel. Kekacauan di Iran justru akan melemahkan upaya penyeimbangan kekuatan di kawasan.”

Negara-negara seperti Oman, Qatar, dan Arab Saudi secara aktif berperan sebagai “pengusaha de-eskalasi”, melakukan diplomasi intensif di belakang layar untuk membujuk Washington mencari jalan diplomatik. Mereka menawarkan pengaruh dan jalur komunikasi dengan Teheran, sambil memperingatkan bahwa serangan terbatas sekalipun akan memicu konsekuensi strategis yang luas.

Eskalasi Militer vs Pengekangan: Mana Pilihan Rasional?

Pada intinya, prospek perang AS-Iran menyoroti kekhawatiran regional yang kompleks. Mayoritas negara di Asia Barat melihat eskalasi militer sebagai pertaruhan berisiko tinggi yang dapat mendestabilisasi kawasan selama bertahun-tahun.

Dampak sekunder—mulai dari krisis pengungsi, gangguan ekonomi, hingga kebangkitan aktor radikal—dipandang jauh lebih berbahaya daripada menghadapi Iran dalam bentuknya yang sekarang. Pelajaran dari kegagalan intervensi militer AS di Irak, Afghanistan, dan Libya telah memperdalam kehati-hatian ini.

Diplomasi, keterlibatan terukur, dan konsultasi regional muncul bukan hanya sebagai alternatif, tetapi sebagai instrumen penting untuk menjaga keseimbangan rapuh di lanskap geopolitik Timur Tengah. Stabilitas, bagi banyak ibu kota di kawasan, tetap menjadi prioritas tertinggi.


Halaman:

Komentar