Surat Bunuh Diri Anak SD di NTT: Dampak Kemiskinan pada Kesehatan Mental Anak

- Rabu, 04 Februari 2026 | 19:25 WIB
Surat Bunuh Diri Anak SD di NTT: Dampak Kemiskinan pada Kesehatan Mental Anak

Tekanan Ganda di Era Media Sosial

Era digital menambah dimensi penderitaan baru. Melalui ponsel, anak-anak dari keluarga kurang mampu setiap hari disuguhi “etalase kehidupan” mewah yang tak terjangkau. Kontras antara kemiskinan yang mereka alami dan kemewahan yang mereka lihat di media sosial dapat memperdalam rasa tidak berharga, tertinggal, dan putus asa.

Tekanan ini adalah bentuk kekejaman baru yang mempercepat kematangan psikologis dengan cara yang pahit, merampas sisa-sisa keceriaan masa kanak-kanak.

Pertanyaan Kritis untuk Kita Semua

Tragedi ini memantik pertanyaan reflektif yang mendesak:


  • Di mana peran negara ketika seorang anak secara perlahan kehilangan harapan untuk hidup?

  • Seberapa serius komitmen kolektif kita dalam memerangi kemiskinan struktural yang merenggut nyawa?

  • Apakah program-program bantuan sudah menyentuh inti persoalan dan memberikan perlindungan psikologis bagi anak?

Surat pendek dari anak di Ngada itu meninggalkan jejak yang panjang. Ia adalah cermin kegagalan kita untuk memaknai kemerdekaan secara utuh. Selama kemiskinan hanya dilihat sebagai angka statistik, bukan sebagai penderitaan manusia nyata, dan selama ketidakadilan masih terjadi, maka janji kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia masih jauh dari kata terpenuhi.

Ini saatnya untuk tidak hanya terharu, tetapi bertindak. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan anak dan penanggulangan kemiskinan harus menjadi prioritas, agar tidak ada lagi surat perpisahan lain yang ditulis oleh tangan-tangan mungil.

Gde Siriana Yusuf adalah Direktur Indonesia Future Studies.


Halaman:

Komentar