Tekanan Ganda di Era Media Sosial
Era digital menambah dimensi penderitaan baru. Melalui ponsel, anak-anak dari keluarga kurang mampu setiap hari disuguhi “etalase kehidupan” mewah yang tak terjangkau. Kontras antara kemiskinan yang mereka alami dan kemewahan yang mereka lihat di media sosial dapat memperdalam rasa tidak berharga, tertinggal, dan putus asa.
Tekanan ini adalah bentuk kekejaman baru yang mempercepat kematangan psikologis dengan cara yang pahit, merampas sisa-sisa keceriaan masa kanak-kanak.
Pertanyaan Kritis untuk Kita Semua
Tragedi ini memantik pertanyaan reflektif yang mendesak:
- Di mana peran negara ketika seorang anak secara perlahan kehilangan harapan untuk hidup?
- Seberapa serius komitmen kolektif kita dalam memerangi kemiskinan struktural yang merenggut nyawa?
- Apakah program-program bantuan sudah menyentuh inti persoalan dan memberikan perlindungan psikologis bagi anak?
Surat pendek dari anak di Ngada itu meninggalkan jejak yang panjang. Ia adalah cermin kegagalan kita untuk memaknai kemerdekaan secara utuh. Selama kemiskinan hanya dilihat sebagai angka statistik, bukan sebagai penderitaan manusia nyata, dan selama ketidakadilan masih terjadi, maka janji kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia masih jauh dari kata terpenuhi.
Ini saatnya untuk tidak hanya terharu, tetapi bertindak. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan anak dan penanggulangan kemiskinan harus menjadi prioritas, agar tidak ada lagi surat perpisahan lain yang ditulis oleh tangan-tangan mungil.
Gde Siriana Yusuf adalah Direktur Indonesia Future Studies.
Artikel Terkait
Ancaman Militer AS ke Iran: Analisis Dampak Diplomasi Hegemoni & Solusi Global
Saif al-Islam Gaddafi Tewas Ditembak: Kronologi, Profil, dan Dampaknya bagi Libya
SMA Siger Bandar Lampung Izinnya Ditolak, Siswa Harus Pindah Sekolah
Presiden Prabowo Jelaskan Alasan Indonesia Gabung Board of Peace, Dapat Dukungan Ormas Islam