"Intinya adalah menciptakan suasana saling menghormati. Mereka yang tidak berpuasa diharapkan menghormati yang berpuasa, dan sebaliknya," jelasnya merangkum pesan dari pimpinan lembaga tersebut.
Memahami Keberagaman Kewajiban dan Keyakinan
Wamenag mengingatkan bahwa umat Islam yang berpuasa perlu memahami bahwa tidak semua orang memiliki kewajiban atau keyakinan yang sama. Oleh karena itu, keberadaan fasilitas umum, termasuk rumah makan yang tetap buka, tidak perlu dipersoalkan secara berlebihan.
"Kita yang berpuasa harus menyadari, tidak semua orang berpuasa. Masih memungkinkan ada fasilitas yang bisa dinikmati mereka yang tidak puasa. Tidak mungkin karena kita puasa, maka semua harus merasakan puasa," ucap Syafii.
Indonesia Dibangun di Atas Toleransi
Lebih lanjut, Syafii menegaskan bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman. Pendekatan yang mengedepankan toleransi dan dialog dinilai jauh lebih tepat dan konstruktif dalam menjaga persatuan bangsa dibandingkan dengan tindakan sweeping atau pemaksaan.
"Kita harus membangun kebersamaan dan kekompakan dengan saling menghormati. Persatuan kita tidak boleh terganggu hanya karena perbedaan," pungkas Wamenag menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Lukisan Kuda Api SBY Terjual Rp 6,5 Miliar ke Low Tuck Kwong: Fakta & Profil Taipan
Lukisan Kuda Api SBY Terjual Rp 6,5 Miliar di Lelang Partai Demokrat, Ini Pembelinya
Eggi Sudjana Ultimatum Pandji Pragiwaksono: Minta Maaf atau Hukum Berjalan
Solusi Fleet Management System TransTRACK: Atasi Tantangan Logistik Darat 2026