Bagi Erfin, menjadi seorang calon legislatif memerlukan biaya yang signifikan, seperti untuk mencetak alat peraga kampanye (APK) dan biaya penggalangan suara.
Dia menyadari bahwa konstitusi sekarang lebih cerdas dan membutuhkan bukti nyata, bukan hanya janji-janji politik.
Dalam pernyataannya, Erfin mengungkapkan bahwa untuk mendapatkan satu suara saja, ia harus mengeluarkan sejumlah uang, dan nilai tersebut dapat dikalikan dengan jumlah suara yang dibutuhkannya di dapil tersebut.
Erfin menghitung bahwa ia membutuhkan dana sekitar Rp300 juta untuk biaya kampanye, termasuk mencetak APK dan penggalangan suara.
Meskipun Erfin telah melakukan berbagai cara, seperti menggunakan aplikasi pertemanan dan door to door untuk menjual ginjalnya, hingga saat ini belum ada tanggapan atau penawaran yang masuk.
Baca Juga: Luncurkan RDN Syariah, BSI Dorong Perkembangan Pasar Modal Syariah
Erfin menyatakan kesiapannya jika ginjalnya terjual, meskipun pada akhirnya gagal menjadi anggota dewan.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: harianhaluan.com
Artikel Terkait
Dugaan Aliran Uang Rp50 Juta untuk Ibu Menteri Terungkap di Sidang Kasus K3 Kemnaker
Dokumen Epstein Ungkap Hubungan Hary Tanoe & Trump, Misteri Indonesian CIA Terbongkar
Dokumen Epstein Ungkap Kunjungan ke Bali 2002 dan Tautan ke Donald Trump
10 Surat Tanah Tidak Berlaku 2026: Segera Urus Sertifikat di BPN!