Toxic Leadership Kapolri Listyo Sigit: Krisis Komunikasi & Ujian Pemerintahan Prabowo-Gibran

- Senin, 02 Februari 2026 | 10:25 WIB
Toxic Leadership Kapolri Listyo Sigit: Krisis Komunikasi & Ujian Pemerintahan Prabowo-Gibran

Analisis Pernyataan Kapolri Listyo Sigit: Toxic Leadership dan Krisis Komunikasi Pemerintahan Prabowo

Dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan pernyataan yang menuai sorotan. Dengan tegas, Kapolri menyatakan, "Saya menolak Polri di bawah kementerian". Pernyataan ini dinilai banyak kalangan mengandung aroma sarkasme dan menunjukkan sikap narsisme.

Listyo Sigit beralasan bahwa meletakkan Polri di bawah kementerian justru akan melemahkan institusi Polri, negara, dan presiden. Ia mengakhiri pernyataannya dengan gaya bahasa hiperbolis, meminta seluruh jajarannya untuk mempertahankan posisi ini "hingga titik darah penghabisan".

Respons Komisi III DPR dan Dinamika Politik 2029

Pernyataan Kapolri itu langsung disambut tepuk sorak dan yel-yel "manyala Kapolri" dari sebagian anggota Komisi III DPR. Respons ini diinterpretasikan sebagai ekspresi kemenangan politik, yang tidak lepas dari dinamika mempertahankan dominasi kekuasaan dan menyongsong suksesi kepemimpinan nasional 2029.

Toxic Leadership Kapolri dan Dampaknya pada Institusi

Fenomena perilaku Kapolri Listyo Sigit yang dinilai mengangkangi otoritas pimpinan negara ini terjadi berulang kali. Dalam analisis kepemimpinan, pola seperti ini dapat digolongkan sebagai Toxic Leadership. Implikasi dari gaya kepemimpinan beracun ini dapat berpengaruh langsung terhadap kinerja, moral, dan integritas institusi Polri secara keseluruhan.

Gaduh Politik Nasional dan Loyalis Prabowo

Rapat kerja yang sarat drama politik ini memicu gaduh politik nasional. Para loyalis Presiden Prabowo Subianto mulai membangun narasi tentang kemarahan Prabowo terhadap Kapolri Listyo Sigit, yang dipandang telah melanggar etika dalam bernegara.


Halaman:

Komentar