Menurut Brad Tucker, astrofisikawan di Australian National University di Canberra, batu luar angkasa itu kemungkinan memiliki ukuran kecil, sekitar 0,5 hingga 1 meter, meluncur dengan kecepatan mencapai 150.000 km per jam. Setiap fragmen yang jatuh ke Bumi, kemungkinan memang berukuran kecil, karena sebagian besarnya telah hancur ketika memasuki atmosfer.
Dijelaskan American Meteor Society, meteor yang meledak di atmosfer Bumi ini disebut juga sebagai bolides atau bola api. Ketika memasukkan atmosfer Bumi, meteor akan mengalami gesekan hingga menyebabkan batuan luar angkasa tersebut hancur dengan kekuatan yang cukup memicu ledakan sonik.
Tucker mengatakan, gesekan itulah yang menyebabkan meteor tampak bercahaya terang di langit. Kebanyakan bolides memancarkan cahaya putih atau kuning saat meledak. Ada pun kilatan hijau dari meteor yang meledak di Croydon disebabkan oleh tingginya konsentrasi logam seperti besi dan nikel di dalam meteor tersebut.
Sumber: kumparan
Artikel Terkait
SP3 Kasus Ijazah Jokowi: Dampak Restorative Justice pada Eggi Sudjana & Damai Hari Lubis
Danantara Ambil Alih 28 Perusahaan di Sumatra, Termasuk Tambang Agincourt Grup Astra
Insiden Paspampres vs Pers Inggris di London: Kronologi Lengkap & Tanggapan Resmi
Indonesia dalam Dewan Perdamaian Trump: Pelanggaran Prinsip Bebas Aktif?