"Ini bisa lihat kekhawatiran gagal bayar AS tidak banyak berimbas ke pasar obligasi, yang secara teori harusnya terkena dampak," tambahnya.
Ini juga menunjukkan bahwa para penanam modal lebih rasional dalam melihat prospek investasi di Indonesia, yaitu dari kondisi fundamental Indonesia yang terjaga.
Namun, Josua meminta agar Indonesia tetap waspada. Hal ini dimaksudkan agar pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk melakukan langkah mitigasi baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Baca Juga: Debt Ceiling AS Akan Beri Dampak ke RI, BI Pasang Kuda-kuda Kuat
Dalam jangka pendek, otoritas bisa melaksanakan manajemen utang, menjaga inflasi, menjaga pergerakan rupiah, dan memastikan neraca eksternal Indonesia solid.
Sedangkan untuk jangka panjang, Indonesia bisa lebih getol melakukan dedolarisasi yang salah satunya lewat perluasan kerja sama penggunaan mata uang lokal atau local currency transaction (LCT).
"Ini akan mengurangi ketergantungan dengan dolar AS. Sehingga, bila terjdi gonjang-ganjing di AS, dampaknya akan minimalis ke Indonesia," tandasnya.
Sumber: nasional.kontan.co.id
Artikel Terkait
Deddy Corbuzier Beri Bantuan Tempat Usaha untuk Penjual Es Gabus yang Difitnah: Kronologi & Kritiknya
Perluasan Sawit di Papua: 5 Manfaat Besar untuk Ekonomi, OAP, dan Energi Nasional
Proyek Lumbung Pangan Disorot: Anggaran 2025 Dipakai di 2024 & Potensi Kerugian Negara
Iran Ancam Serang Jantung Tel Aviv: Analisis Ancaman Militer & Respons AS