Ia juga menyebut kelompok yang dinamainya Parcok dan Parjo sebagai bagian dari masalah.
Mengungkap Pola dan Dampak Oligarki
Said Didu menjelaskan pola oligarki yang merusak, mulai dari membujuk legislator membuat aturan, memperoleh konsesi lahan dan tambang, menguasai perbankan, hingga mengeruk keuntungan di pasar modal.
"Sepuluh orang terkaya, kekayaannya naik tiga kali lipat, tapi kemiskinan juga naik tiga kali lipat. Ini perampokan," katanya, menyebut hanya sekitar 60 oligark yang menguasai kekayaan nasional.
Dukungan untuk Agenda Prabowo dan Peringatan Perlawanan Oligarki
Meski kritis, Said Didu menegaskan tidak beroposisi terhadap program utama Presiden Prabowo. Ia menyatakan dukungan penuh terhadap agenda pemberantasan korupsi, pembersihan penegak hukum, dan pengembalian kedaulatan nasional.
"Kami tidak oposisi terhadap Presiden. Oposisi kami adalah terhadap orang-orang di sekitar beliau yang menghalangi agenda pengembalian kedaulatan," tegasnya.
Ia memprediksi perlawanan terhadap Prabowo akan sangat besar, terutama dari DPR dan elite politik, karena baru kali ini ada presiden yang berani menyentuh kepentingan oligarki secara terbuka.
Target Gerakan: Geng Solo Oligarki Parcok (SOP)
Said Didu menyatakan gerakan yang akan dibentuk tidak berbasis partai atau kelompok tertentu, fokus pada pembelaan rakyat yang dirugikan.
"Target kita jelas: oligarki. Dengan agenda ini, yang pertama tersentuh pasti geng SOP, Solo Oligarki Parcok. Itu tidak terelakkan," ujarnya.
Ia menutup dengan ajakan menyatukan kekuatan rakyat di seluruh Indonesia untuk merebut kembali kedaulatan bangsa yang telah lama diperjualbelikan elite.
Artikel Terkait
Strategi Politik Jokowi 2029-2034: Dukungan ke PSI Kaesang & Gibran
Kritik Dokter Tifa: Jokowi di Rakernas PSI Dinilai Playing Victim, Ini Analisis Lengkapnya
Prabowo Subianto Temui Siti Zuhro & Susno: Pertemuan Malam Bahas Pemilu dan Hukum
Gatot Nurmantyo Dikritik Petisi Ahli: Pernyataan Adu Domba Kapolri-Presiden Melemahkan Polri