Efriza Peneliti senior Citra Institute memiliki beberapa pengamatan serta analisis mendalam terkait tersanderanya Megawati Soekarno Putri.
Megawati Soekarno Putri, Ketua Umum PDIP, mendapat sorotan tajam terkait pembelaannya terhadap menantunya, Happy Hapsoro, yang terjerat dalam kasus kontroversial.
Kasus ini juga mencuat karena keputusan PDIP untuk tidak menggunakan hak angket terkait kasus tersebut.
Para kritikus menganggap sikap Megawati ini sebagai kesalahan besar, karena mencampuri urusan pribadi dengan urusan partai politik.
Profesionalisme Dalam Memisahkan Kepentingan
Para pengamat politik menilai bahwa Megawati seharusnya bersikap lebih profesional dalam memisahkan urusan pribadi dengan urusan partai politik.
Sebagai pemimpin partai besar, Megawati seharusnya memberikan contoh tentang keberanian dalam melawan rezim, bukan malah terlibat dalam kasus pribadi yang dapat merugikan citra partai.
Stigma Negatif Terhadap PDIP
Keputusan PDIP untuk tidak menggunakan hak angket dalam kasus ini telah menimbulkan stigma negatif terhadap partai tersebut.
Meskipun beretorika tentang dugaan kecurangan, namun tanpa bukti yang cukup, keputusan ini justru dapat merugikan citra PDIP di mata masyarakat.
Ambiguitas Sikap PDIP
Sikap ambigu PDIP dalam menghadapi kasus ini bisa berpotensi menghilangkan simpati masyarakat terhadap partai tersebut.
Ketidakjelasan dalam menyikapi kasus tersebut dapat memperkuat pandangan bahwa PDIP tidak konsisten dalam menegakkan keadilan.
Implikasi Terhadap PDIP di Masa Depan
Keputusan Megawati untuk mengendorkan daya juang hak angket juga dapat berdampak negatif bagi PDIP di masa depan.
Sikap negosiasi yang ditunjukkan oleh Megawati dalam kasus ini dapat dianggap sebagai kelemahan partai, sehingga memungkinkan pemerintah ke depan untuk tidak khawatir terhadap PDIP sebagai oposisi.
Artikel Terkait
Desakan Copot Dahnil Anzar: Aktivis Muhammadiyah Protes Ucapan Kasar ke Anwar Abbas
PBNU Kecam Dahnil Anzar: Pernyataan ke Anwar Abbas Dinilai Tak Beradab, Ini Kata Katib Syuriyah
Viral! Anies Baswedan Santai Ajak Foto Bareng Intel di Karanganyar, Responsnya Disoroti
Prabowo Ultimatum Koruptor: Jangan Nantang Gue Lo di Rakornas 2026