“Cuma ya harus utang lagi gitu. Jadi utang untuk nutup utang. Tapi kalau PT KAI suruh nanggung semua ya jelas enggak akan mampu. Jadi sebenarnya kita masih aman. Karena ekonomi kita masih cukup kuat,” kata Zulfikar.
Proyek lainnya adalah proyek nikel di Morowali, Sulawesi Tengah. yang merupakan proyek pertambangan dan pengolahan terintegrasi PT Vale Indonesia Tbk (Vale) dan PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI). Karena, Zulfikar berujar, proyek tersebut berdampak kepada masyarakat setempat.
“Dua proyek itu. Coba kalau kita ngomongin nikel tambang kan ada macem-macam ya, dan jumlah yang sudah dibangun juga bertambah jadi kita harus hati-hati juga,” tutur Zulfikar.
Zulfikar juga memperkirakan jumlah utang Indonesia ke Cina berpotensi meningkat seiring dengan masuknya proyek-proyek belt and road initiative atau jalur sutra baru Cina yang sudah ditandatangani dengan Indonesia.
Pada 2022 saja, nilai utang Indonesia sudah mencapai US$ 20,225 miliar setara dengan Rp 315,1 triliun. [IndonesiaToday/Tempo]
Sumber: bisnis.tempo.co
Artikel Terkait
Program Makan Bergizi (MBG) Bappenas: Lebih Mendesak dari Lapangan Kerja?
Anwar Abbas Peringatkan Prabowo Soal Dewan Perdamaian AS-Israel: Analisis Risiko & Dana Rp16,7 T untuk Gaza
Deddy Corbuzier Beri Bantuan Tempat Usaha untuk Penjual Es Gabus yang Difitnah: Kronologi & Kritiknya
Perluasan Sawit di Papua: 5 Manfaat Besar untuk Ekonomi, OAP, dan Energi Nasional