Hal ini memunculkan skenario yang dikenal sebagai "Madurismo tanpa Maduro". Skema ini bertujuan menjaga kesinambungan struktur rezim dengan hanya mengganti figur puncaknya, agar transisi kekuasaan berlangsung terkendali tanpa gejolak besar atau pembongkaran sistem secara menyeluruh.
Pernyataan Trump dan Tuduhan Pengkhianatan Internal
Keterlibatan AS semakin jelas ketika Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Washington akan "mengelola" Venezuela melalui pemerintahan transisi yang dipimpin Delcy Rodriguez. Trump juga menyebut rencana masuknya perusahaan minyak AS ke Venezuela.
Tuduhan pengkhianatan internal semakin menguat setelah pernyataan mantan Wakil Presiden Kolombia, Francisco Santos Calderon. Santos menyatakan keyakinannya bahwa penyingkiran Maduro adalah operasi internal yang melibatkan Delcy Rodriguez, dan bahwa Maduro "diserahkan" kepada AS tanpa perlawanan berarti.
Kesimpulan: Pergeseran Kekuasaan yang Dirahasiakan
Jika berbagai laporan ini benar, kejatuhan Nicolas Maduro menandai babak baru dalam politik Venezuela. Peristiwa ini bukan sekadar tumbangnya seorang presiden akibat tekanan luar, melainkan hasil dari pergeseran kekuasaan yang dirancang melalui kompromi elite internal, negosiasi tertutup, dan kepentingan geopolitik global yang saling bersinggungan. Transisi ini membuka pertanyaan besar tentang masa depan demokrasi dan kedaulatan Venezuela.
Artikel Terkait
AS Tarik Diri dari 66 Organisasi Internasional: Dampak dan Kekhawatiran Indonesia
Video Call Parera 11 Menit Viral: Fakta, Modus, dan Bahaya Penyebaran Ilegal
Panduan Lengkap Pengiriman Laut China ke UAE: Dokumen, Bea Cukai & Tips 2024
Iran Siaga Tempur Tertinggi, Trump Beri Peringatan Keras: Analisis Ketegangan AS-Iran 2024