Namun, Edy menegaskan kondisi ideal tersebut justru menjadi persoalan ketika dibandingkan dengan nasib guru honorer dan tenaga kesehatan. Banyak dari mereka yang telah mengabdi lama, tetapi belum mendapatkan kepastian status maupun kesejahteraan yang layak.
"Yang tidak adil, para nakes dan guru protes, terutama yang sudah mengabdi lama. Saya berharap ini menjadi efek domino bagi presiden untuk menyelesaikan masalah PPPK yang ada, terutama di sektor guru dan kesehatan," tuturnya.
Edy mengimbau agar persoalan ini segera dikoordinasikan dengan Presiden Prabowo Subianto agar polemik pengangkatan PPPK tidak berlarut-larut.
Protes Terus Berlanjut jika Tak Ditangani
Ia memperingatkan bahwa tanpa penyelesaian yang konkret, protes dari kalangan guru dan nakes akan terus berlanjut. Edy memberikan contoh nyata yang dinilai sangat timpang.
"Ini jika tidak diurus, protesnya akan berlanjut. Sopir yang mengantar makanan (untuk program gizi) gajinya lebih tinggi dari guru yang mendidik anak-anak. Mereka kuliah berdarah-darah, kok tiba-tiba perlakuannya berbeda," pungkas Edy Wuryanto.
Pernyataan ini menyoroti urgensi penyelesaian masalah kejelasan status dan kesejahteraan bagi jutaan guru honorer dan tenaga kesehatan di Indonesia, yang dianggap masih jauh dari prinsip keadilan yang diterapkan pada pegawai SPPG.
Artikel Terkait
TNI Siap Hadapi Perang Berlarut, Menhan Sjafrie Tegaskan Konsep Pertahanan Defensif Aktif
KPK Ungkap Modus Pemerasan Bupati Pati: Uang Rp2,6 Miliar Disimpan dalam Karung
Roy Suryo Protes Penetapan Tersangka Kasus Ijazah Jokowi: Klaim Pelanggaran HAM Berat
Kasus Ijazah Jokowi: Menunggu Keputusan Kejaksaan, Akankah Langsung P21 atau P19?