Siapa menyana, kejenuhan yang dirasakan Emil ternyata juga dirasakan Pak Harto. Kepada orang kepercayaannya itu, Soeharto mengaku lelah. Bahkan sama seperti Nyonya Emol, istri Presiden Kedua RI, Siti Hartinah, juga acap meminta suaminya mundur dari jabatan.
“Dia bilang, saya juga capek. Ibu Tien pun meminta berkali-kali saya juga lengser keprabon, mundur. Saya juga merasa sudah waktunya mengundurkan diri. Beliau cenderung ingin berhenti tahun 1993,” kata Emil menuturkan ulang perkataan Pak Harto kepadanya.
Keinginan Soeharto hampir terwujud selang beberapa bulan setelah berbicara dengan Emol. Bahkan dia sempat memanggil Dewan Pembina Partai Golkar dan mengemukakan keinginannya tersebut. Tetapi ada yang meminta dilakukan survei dahulu apakah bijaksana Pak Harto berhenti pada waktu itu.
“Hasil survei membuktikan 92 persen meminta bapak tetap jadi presiden. Tapi saya kira 93 persen hati kecilnya ingin mundur, hanya saja ada kondisi teman-teman politiknya ngipas supaya terus (tetap jadi presiden),” ujarnya.
Soeharto juga diperkirakan bakal tak maju lagi alias menolak pencalonannya kembali sebagai presiden untuk periode keenam pada 1998. Perkiraan itu muncul setelah istrinya, Tien Soeharto meninggal dunia pada 28 April 1996. Perkiraan itu keliru. Soeharto kukuh menjabat lagi untuk periode 1998–2003.
Berbagai gejolak terjadi dalam negeri setelahnya. Di usia kepemimpinannya yang memasuki tahun ke-30an, Indonesia dilanda krisis moneter dan munculnya gerakan reformasi. Pemerintahannya juga dinilai otoriter oleh sejumlah pihak. Demonstrasi pada awal Mei 1998 oleh aktivis dan elemen masyarakat menyulut sejumlah tragedi. Soeharto akhirnya mundur.
Sumber: tempo
Artikel Terkait
Proyek Lumbung Pangan Disorot: Anggaran 2025 Dipakai di 2024 & Potensi Kerugian Negara
Iran Ancam Serang Jantung Tel Aviv: Analisis Ancaman Militer & Respons AS
Ledakan di Teheran: Uji Coba Militer Iran di Tengah Ancaman AS dan Eskalasi Ketegangan
SP3 Kasus Ijazah Jokowi: Dampak Restorative Justice pada Eggi Sudjana & Damai Hari Lubis