Namun, dalam kasus ini, warga mengambil beras langsung melalui lurah, tanpa melalui kelurahan.
Tamzil juga menambahkan bahwa ada kesalahan teknis dari lurah karena menerima bantuan di dermaga di luar tanpa melibatkan kelurahan.
Seharusnya, persyaratannya harus disahkan di kantor lurah terlebih dahulu sebelum warga dapat mengambil beras.
Namun, dalam kasus ini, warga langsung menyerobot antrean karena merasa sudah terdaftar di lurah.
Penjelasan Luran Kodingareng
Lurah Pulau Kodingareng, Ronny Catur Prabowo, mengatakan bahwa keributan terjadi ketika warga penerima manfaat tidak sabar.
Warga membludak dan tidak sabar untuk menerima bantuan tersebut.
Baca juga: Kronologi Ratusan Warga Kodingareng Jarah Bantuan Beras Pemerintah, Dipicu Keterlambatan Kapal
Baca juga: Geger Mahasiswa Kedokteran Unhas Hilang Misterius, Keluarga Khawatir Ikut Organisasi Radikal
"Sedikit tidak sabar ji penerima beras bantuan pangan. Dia tidak sabar ambil, tidak mau menunggu, mengantre," katanya kepada tribun timur, Jumat (26/5/2023).
Warga yang mendapat bantuan memang sudah terdaftar sebagai penerima manfaat.
Kuota untuk warga Pulau Kodingareng sebanyak 657 kepala keluarga.
Salah satu penyebab keributan itu karena kapal datang terlambat.
Sehingga warga yang sudah lama menunggu ingin menyerobot.
"Dia cuma tidak sabaran ambil beras, padahal semuanya pasti dapat. Cuma memang terlambat datang kapal, kapal masuk setengah tiga dini hari," jelasnya.
"Ada daftarnya memang, Alhamdulillah ini aman ji. Jadi mereka semua yang ambil beras itu semua yang menerima," tambahnya.(*)
Laporan Wartawan Tribun Timur, M Yaumil
Sumber: makassar.tribunnews.com
Artikel Terkait
Proyek Lumbung Pangan Disorot: Anggaran 2025 Dipakai di 2024 & Potensi Kerugian Negara
Iran Ancam Serang Jantung Tel Aviv: Analisis Ancaman Militer & Respons AS
Ledakan di Teheran: Uji Coba Militer Iran di Tengah Ancaman AS dan Eskalasi Ketegangan
SP3 Kasus Ijazah Jokowi: Dampak Restorative Justice pada Eggi Sudjana & Damai Hari Lubis