Rocky juga memberikan analisis mengenai situasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia mengibaratkan kondisi presiden saat ini seperti terendam air kotor hingga sedagu.
Lebih lanjut, Rocky membandingkan sistem pendidikan Prancis pasca-Revolusi dengan Indonesia yang dinilai masih feodal. Di Indonesia, yang terjadi bukan Ing Ngarso Sung Tulodo, tapi Ing Ngarso Sung Korupsi. Bukan Tut Wuri Handayani, tapi Tut Wuri Malsuin Ijazah,
sindirnya pedas.
Tanggapan dari Peserta Diskusi dan Pembicara Lain
Kegelisahan turut disampaikan Otniel Rahadianta Sembiring dari FKPO Yogyakarta yang menyatakan generasi muda merasa dibungkam dalam sistem yang terlalu rigid. Sementara itu, Ketua MGMP Bahasa Inggris DIY, Ismi Fajarsih, mengkritik perubahan kebijakan pendidikan yang dianggap tidak berbasis kajian mendalam.
Ekonom Rimawan Pradiptyo menyoroti fenomena institutional decay atau pelemahan kelembagaan. Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, yang juga hadir, menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam implementasi kebijakan publik.
Esensi Pendidikan yang Memerdekakan
Forum yang dipandu Aryo Seno Bagaskoro ini diawali dengan kunjungan ke Pendopo Agung Taman Siswa untuk menelusuri jejak Ki Hajar Dewantara. Pendidikan itu adalah membangun manusia, bukan soal bagaimana pendidikan itu dikapitalisasi. Kami ingin memastikan esensi pendidikan yang memerdekakan tetap terjaga,
pungkas Seno.
Artikel Terkait
5 Tanda Keretakan Hubungan Jokowi dan Prabowo Menurut Ray Rangkuti
Rocky Gerung: Jaga Tradisi Intelektual Yogyakarta dari Politik Pragmatis dan Otoritarianisme
Rocky Gerung Bocarkan Strategi Serang Balik Jokowi yang Ditolak Prabowo di Pilpres 2019
Pilpres 2029: Prabowo Diprediksi Perkasa, Lawan Hanya Menabung Popularitas untuk 2034