Brasil misalnya, pada Juni 2013, unjuk rasa besar-besaran mengguncang kota-kota besar seperti San Paulo dan Rio de Janeiro. Awalnya dipicu kenaikan tarif transportasi, tapi cepat membesar dengan isu korupsi dan pelayanan publik. Tiga tahun kemudian, pada 2016, Presiden Dilma Rousseff yang sedang menertibkan fiskal negara akhirnya dipaksa turun lewat proses pemakzulan. Banyak analisis menyebut, elite-elite politik yang tersangkut kasus korupsi ikut mendanai dan menggerakkan protes, demi menyelamatkan kepentingan mereka.
Ukraina pada November 2013, gelombang protes "Euromaidan" meledak di Kiev setelah Presiden Viktor Yanukovych menolak menandatangani perjanjian dengan Uni Eropa. Demonstrasi yang awalnya damai berubah menjadi bentrokan berdarah sepanjang musim dingin 2013?"2014. Pada Februari 2014, Yanukovych lengser dan melarikan diri ke Rusia. Sejumlah laporan investigasi menunjukkan, selain aspirasi rakyat yang murni, ada pula tangan oligarki lama yang menyalurkan dana dan logistik, memanfaatkan momentum untuk menjatuhkan lawan politik.
Korea Selatan pun mengalami gejolak serupa. Skandal besar yang menyeret Presiden Park Geun hye mencuat pada akhir 2016. Ratusan ribu orang menggelar aksi protes berjilid-jilid setiap akhir pekan di pusat Seoul, dikenal sebagai “Candlelight Protests.” Aksi ini berlangsung dari Oktober 2016 hingga Maret 2017. Di balik gelombang rakyat yang marah, tak bisa dipungkiri ada kelompok politik yang ikut menggelontorkan dana dan memobilisasi massa untuk mempercepat tumbangnya Presiden Park. Pada 10 Maret 2017, Mahkamah Konstitusi akhirnya mengesahkan pemakzulan Park.
Maka kalau kita tarik ke Jakarta hari ini, kita harus jujur pada diri sendiri. Tidak semua orang di jalan itu tulus menyuarakan aspirasi. Ada yang murni, ada yang ditunggangi. Publik perlu jeli membedakan, jangan sampai kerusuhan segelintir orang menenggelamkan suara sahih dari buruh yang menuntut upah layak, atau rakyat kecil yang sekadar ingin hidup lebih baik.
Pemerintah pun tidak bisa hanya berhenti pada narasi “ini ulah kelompok tertentu.” Mungkin itu hanya separuh cerita. Separuh lainnya adalah keresahan nyata, ekonomi yang berat, ketidakadilan sosial yang mencolok, dan kebijakan yang sering terasa jauh dari rakyat. Bila ini tidak dijawab, maka siapa pun bisa memanfaatkan celah itu untuk menyulut gelombang kerusuhan.
Sejarah Brasil, Ukraina, hingga Korea Selatan adalah pengingat, bahwa kerusuhan jalanan hampir tak pernah lahir dari ruang hampa. Ada aktor, ada dana, ada agenda. Tugas kita adalah memastikan bahwa suara rakyat yang tulus tidak ditenggelamkan oleh permainan elite yang sedang panik mempertahankan kepentingan yang saat ini sedang dibersihkan oleh Pemerintahan Prabowo karena prakteknya selama itu telah merugikan rakyat dan negara.
*<>Pegiat sosmed.
Artikel Terkait
Suami Wardatina Mawa Akui Sudah Menikah dengan Inara Rusli, Tunjukkan Bukti: Maskawin-Saksi Nikah
Menhan Sjafrie Warning Bahaya! Ada Negara dalam Negara, TNI Langsung Disiagakan Amankan Bandara IMIP
Isu Bandara Ilegal PT IMIP Diungkap, Said Didu: Pintu Masuk Skandal Tambang Era Jokowi?
Cara Download Snack Video Tanpa Watermark Tercepat dan Paling Mudah 2026