"Dalam situasi ini, negara yang tidak punya strategi akan terseret, dan negara yang tidak punya ketahanan akan menjadi objek," ujarnya. Indonesia, menurutnya, tidak boleh jatuh ke dalam posisi pasif tersebut.
Diplomasi Bebas Aktif dengan Pendekatan Realistis
Meski politik luar negeri Indonesia tetap berpijak pada prinsip bebas aktif, Sugiono menekankan bahwa prinsip ini tidak bisa dijalankan secara kaku. Diplomasi harus menyesuaikan dengan perubahan global yang cepat dan penuh tekanan.
"Diplomasi kita harus dibangun atas kesiapsiagaan, kewaspadaan, dan realisme," ucapnya. Diplomasi realistis ini bukan berarti meninggalkan nilai-nilai, melainkan menyesuaikan pendekatan dengan ancaman dan peluang yang berkembang.
Ancaman Global yang Langsung Berdampak
Sugiono mengingatkan bahwa dinamika dan krisis global akan cepat atau lambat terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Ancaman tidak lagi datang dalam bentuk tunggal, sehingga kesiapsiagaan mutlak diperlukan.
Pernyataan ini disampaikan di tengah perkembangan global yang mencemaskan, seperti penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS dan isyarat serangan AS ke Iran oleh Presiden Donald Trump, yang semakin memperkuat narasi dunia yang kompetitif dan sulit diprediksi.
Artikel Terkait
Insiden Guru vs Siswa SMKN 3 Tanjabtim Viral: Kronologi Lengkap & Tindakan Disdik Jambi
Yoon Suk Yeol Dituntut Hukuman Mati: Kronologi, Fakta, dan Jadwal Sidang Terbaru
Cara Efektif Menggunakan AI PPT Maker: Panduan Lengkap 2025 untuk Konversi Teks ke Slide
Kecelakaan Tambang Emas Antam di Bogor: Pekerja Terjebak, Asap Tebal & Evakuasi Terkini