Dari sisi siswa, cerita yang muncul berbeda. Seorang siswa berinisial MUF menggambarkan Agus Saputra sebagai guru yang kerap menggunakan kata-kata kasar dan ingin dipanggil "prince".
"Sering ngomong kasar, menghina siswa dan orang tua, bilang bodoh dan miskin," tutur MUF. Ia menegaskan bahwa ketegangan telah lama mengendap.
MUF menceritakan, insiden fisik bermula saat Agus masuk ke kelasnya tanpa izin guru yang sedang mengajar, memanggilnya, dan langsung menamparnya. Ketegangan sempat mereda, namun memanas kembali saat Agus keluar dari kantor membawa sapit rumput (alat kebun).
"Pas saya dekat ke muka dia, saya ditinju di hidung. Kalau tidak ditinju dulu, tidak akan ada pengeroyokan," tegas MUF.
Proses Hukum yang Ditempuh
Agus Saputra, didampingi sang kakak Nasir, telah melaporkan kasus ini ke Polda Jambi. Mereka merasa dirugikan secara mental dan psikis, terlebih dengan viralnya video tersebut.
"Adik saya sedikit pusing. Sudah ada visum dan ada bekas lebam," jelas Nasir. Visum tersebut dijadikan sebagai barang bukti dalam proses hukum yang sedang berjalan.
Insiden ini menyisakan pertanyaan besar mengenai dinamika hubungan guru dan siswa serta pentingnya komunikasi yang sehat di lingkungan pendidikan.
Artikel Terkait
Kecelakaan Kereta Cepat Spanyol di Adamuz Tewaskan 21 Orang: Kronologi & Penyebab Anjlok
Keraton Solo Ricuh: Fadli Zon Serahkan SK Cagar Budaya, Mikrofon Putri Raja Dimatikan
Lonjakan PTSD & Bunuh Diri di Militer Israel: Data Kenaikan 40% Akibat Perang Gaza
Bocil Block Blast Viral: Fakta, Ancaman Malware & Cara Aman Menyikapinya