Analisis Lengkap Pidato Prabowo di WEF 2026: Visi, Program Sosial, dan Strategi Ekonomi

- Jumat, 23 Januari 2026 | 15:25 WIB
Analisis Lengkap Pidato Prabowo di WEF 2026: Visi, Program Sosial, dan Strategi Ekonomi

Pidato Prabowo di WEF 2026: Kekuasaan yang Membuat Miskin dan Lemah Tersenyum

Oleh: Denny JA

Hari keempat World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos diwarnai oleh pidato Presiden Prabowo Subianto yang membawa pesan berbeda. Di tengah forum elite global, ia mengingatkan kembali etika dasar kekuasaan: membuat rakyat miskin dan lemah tersenyum. Kalimat ini bukan sekadar slogan, melainkan ukuran moral apakah sebuah negara masih memiliki hati nurani.

Ironi Jarak dan Kejernihan Makna

Saat pidato berlangsung, penulis justru berada satu jam dari Davos, menyimak dari kejauhan. Justru dari jarak itulah esensi pidato tentang rakyat paling bawah terasa lebih utuh dan jernih. Pesan tersebut sampai melalui potongan video dari istri, yang menceritakan pertanyaan langsung Prabowo, "Denny JA ada di mana?"—sebuah ironi kecil yang mempertegas kedalaman makna.

Jawaban Indonesia di Tengah Dunia yang Berubah

WEF 2026 diwarnai kesadaran akan tatanan dunia yang fragmentasi dan penuh ketidakpastian. Banyak pemimpin menyuarakan proteksionisme atau nasionalisme transaksional. Namun, Prabowo memilih pintu berbeda: berbicara tentang rakyat miskin, anak yang lapar, dan desa yang terabaikan.

Argumen intinya sederhana namun kuat: tidak ada kemakmuran tanpa perdamaian, tidak ada pertumbuhan tanpa stabilitas, dan tidak ada stabilitas tanpa kepercayaan. Ia menyodorkan bukti: pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap di atas 5%, inflasi terkendali, dan yang terpenting, Indonesia tidak pernah sekalipun gagal bayar utang. Kredibilitas, baginya, adalah aset nasional termahal.

Kebijakan Nyata: Dari Anggaran ke Lapangan

Pidato itu tidak berhenti pada retorika. Prabowo merinci langkah konkret: efisiensi anggaran besar-besaran, pengalihan dana ke program langsung untuk rakyat. Lahirlah program makan bergizi gratis puluhan juta porsi per hari, serta pemeriksaan kesehatan gratis seumur hidup. Ini bukan program populis, melainkan investasi produktivitas jangka panjang.


Halaman:

Komentar