Meski menawarkan teknologi dengan harga murah, kerja sama Indonesia-Iran dinilai mengandung risiko geopolitik yang signifikan. Pengamat Timur Tengah UI, Agung Nurwijoyo, menyatakan potensi tekanan dari negara-negara Barat sangat mungkin terjadi, mengingat Iran menjadi target sanksi dan dianggap sebagai ancaman.
"Tekanan akan meningkat drastis jika kerja sama drone terkait langsung dengan sektor pertahanan/militer dan konflik di Timur Tengah," ujar Agung. Ia menekankan pentingnya Indonesia merancang desain kebijakan yang jelas dan fokus pada tujuan ekonomi serta damai untuk meminimalkan risiko diplomatik ini.
Perbandingan dengan Kerja Sama Drone Turki
Kerja sama dengan Iran juga akan dibandingkan dengan kemitraan drone yang sudah terjalin antara Indonesia dan Turki. Pada Februari 2025, Indonesia dan Turki menandatangani MoU joint venture antara Republikorp dan Baykar untuk membangun pabrik drone di Indonesia, disusul pengiriman drone tempur Anka-S dari Turkish Aerospace Industries.
Respons dan Potensi Masa Depan
Hingga saat ini, pemerintah Indonesia belum memberikan respons resmi terhadap tawaran Iran. Keputusan ini akan mempertimbangkan secara matang antara potensi penguasaan teknologi dengan biaya efisien dan dampak luas terhadap hubungan diplomatik Indonesia dengan mitra strategis lainnya di kancah global.
Artikel Terkait
Hilal Awal Ramadan 1447 H Mustahil Terlihat, Ini Penjelasan Lengkap Menag
Tragis! Kronologi Lengkap Ibu di Aceh Tewas Diterkam Buaya Saat Cari Lokan
Boyamin Saiman Kritik Jokowi: Dukungan Kembalikan UU KPK Dinilai Cari Muka
Awal Ramadan 2026 Diprediksi 19 Februari: Daftar Negara & Penjelasan Hilal