Melalui kegiatan ini, GP Ansor menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang perjumpaan yang memperkuat kohesi sosial, membangun saling pengertian, serta menolak polarisasi yang berpotensi memecah belah bangsa. Perayaan ini menjadi simbol bahwa harmoni dapat dirawat melalui kebersamaan, dialog, dan penghormatan terhadap identitas masing-masing.
Apresiasi dari Komunitas Tionghoa Indonesia
Wakil Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), Hasan Karman, menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif GP Ansor.
"Kami apresiasi GP Ansor yang menghadirkan perayaan ini sebagai ruang persaudaraan dan dialog lintas budaya," ujar Hasan.
Hasan menekankan bahwa akulturasi adalah kekuatan budaya Indonesia. Dalam semangat Pancasila, perbedaan adalah peluang untuk membangun kerja sama dan saling menghormati. "Akulturasi adalah kekuatan Indonesia, di mana perbedaan dipertemukan menjadi kerja sama dan saling menjaga," tegasnya.
Ruang Perjumpaan dan Simbol Akulturasi Kuliner
Acara ini juga menghadirkan bincang santai bertema Imlek sebagai jembatan persaudaraan. Akulturasi budaya turut ditampilkan melalui sajian kuliner yang mencerminkan pertemuan berbagai tradisi. Salah satu simbol yang diangkat adalah bakso, sebagai wujud asimilasi kuliner yang telah diterima luas oleh berbagai komunitas di Indonesia.
Artikel Terkait
Viral Video Mesum di Rental PS Tabanan, Orang Tua Laporkan Penyebar ke Polisi: Kronologi Lengkap
Israel Tahan Imam Al-Aqsa Muhammad Ali Abbasi Jelang Ramadan: Dampak & Ketegangan Terkini
5 Tips Puasa Aman untuk Penderita Maag: Cegah Asam Lambung Naik di Ramadan
Awal Puasa Ramadhan 2026: Pemerintah Tetapkan 19 Februari, Berbeda dengan Muhammadiyah