Menariknya, penelitian modern membuktikan tubuh manusia masih cenderung pada pola ini. Dalam studi yang mensimulasikan lingkungan tanpa cahaya buatan, partisipan secara alami kembali ke pola tidur dua sesi. Penelitian tahun 2017 di komunitas pedesaan Madagaskar tanpa listrik juga menemukan penduduknya masih mempraktikkan tidur biphasic.
Cahaya, Waktu, dan Persepsi Kita saat Terjaga
Mengapa terbangun tengah malam sekarang terasa menyiksa? Kuncinya ada pada persepsi waktu. Cahaya redup dan kecemasan membuat waktu terasa berjalan lebih lambat. Studi dari Environmental Temporal Cognition Lab menunjukkan bahwa adegan dengan cahaya redup secara subyektif terasa lebih lama dibanding adegan terang.
Tanpa aktivitas produktif seperti yang dilakukan leluhur, perhatian kita kini terfokus pada jam dan perhitungan menit, yang justru memicu kecemasan dan membuat tidur semakin sulit.
Cara Mengatasi Terbangun di Tengah Malam
Ahli tidur dan Terapi Perilaku Kognitif untuk Insomnia (CBT-I) memberikan saran ini:
- Jangan Melawan: Terima bahwa terbangun sebentar adalah hal normal. Jangan panik.
- Jauhi Jam: Tutup atau jauhkan jam dari pandangan. Menghitung waktu hanya meningkatkan kecemasan.
- Lakukan Aktivitas Tenang: Jika terjaga lebih dari 20 menit, bangunlah dan lakukan aktivitas ringan di cahaya redup seperti membaca buku membosankan.
- Kembali ke Tempat Tidur: Kembalilah ke tempat tidur hanya ketika rasa kantuk datang kembali.
Kesimpulannya, terbangun pukul 3 pagi mungkin bukan tanda insomnia, melainkan jejak memori evolusi tubuh kita yang masih mengingat pola tidur alami manusia. Dengan memahami hal ini dan merespons dengan tenang, kualitas tidur Anda bisa menjadi lebih baik.
Artikel Terkait
Video Trump Memejamkan Mata di Acara Board of Peace Viral, Kesehatan Presiden AS Dipertanyakan
Kapolri Perintahkan Tes Urine Serentak Seluruh Personel Polri, Ini Tujuannya
Aturan Baru Sertifikasi Halal: Produk Nonhalal Tidak Wajib Berlabel Halal
2026 Tax Filing Guide: How to File Your 2025 Tax Return (Deadlines, Tips & Deductions)