"Masalahnya, kami tidak bisa mendeteksi di mana mereka bertemu. Namun dari pengakuannya, banyak di antara mereka yang pasangannya itu berasal dari luar Blitar dan juga karyawan swasta," ungkapnya.
Aplikasi kesehatan yang nge link dengan aplikasi layanan publik yang lain, menurut Christine, hanya satu-satunya sistem yang mampu mendeteksi keberadaan mereka. Itupun, jika mereka memeriksakan kondisi kesehatannya ke Yankes.
Dari data Dinkes Pemkab Blitar, jumlah ODHA selama setengah tahun ini sebanyak 114 kasus baru. Angka ini naik hampir 100 persen jika dibandingkan 2022 lalu yang hanya 140 kasus baru selama setahun.
Dari kenaikan kasus baru itu, status karyawan swasta menyumbang jumlah tertinggi yakni sebanyak 44 kasus, disusul ibu rumah tangga 27 kasus, baru kemudian wanita pekerja seks dengan jumlah 9 orang.
Sementara, klasifikasi kasus baru berdasarkan populasi pada 2023 ini mayoritas berasal dari populasi umum yakni sebanyak 36 kasus, gay sebanyak 29 kasus, dan ibu hamil serta pasien TBC dengan jumlah masing-masing 10 kasus.
"ODHA itu menular, jangan sampai penularannya terjadi secara massif tanpa terdeteksi. Tapi kami tidak bisa melakukannya sendiri. Kenaikan jumlah ODHA selama enam bulan ini sangat memprihatinkan. Ini bukan hanya tugas Dinkes tapi juga tanggung jawab kemanusiaan bersama," pungkasnya.
Sumber: detikcom
Artikel Terkait
Proyek Lumbung Pangan Disorot: Anggaran 2025 Dipakai di 2024 & Potensi Kerugian Negara
Iran Ancam Serang Jantung Tel Aviv: Analisis Ancaman Militer & Respons AS
Ledakan di Teheran: Uji Coba Militer Iran di Tengah Ancaman AS dan Eskalasi Ketegangan
SP3 Kasus Ijazah Jokowi: Dampak Restorative Justice pada Eggi Sudjana & Damai Hari Lubis