Dalam sambutannya, Paus Fransiskus memulai dengan menggarisbawahi “nilai sekularitas dalam kehidupan dan pelayanan para imam.”
Baca Juga: Para Pria di Polandia dan Irlandia Terus Melakukan pawai Doa Rosari di Berbagai Tempat Umum
“Sekularitas (secolarità),” tegasnya, “tidak sama dengan sekularisme (laicità).”
Sekularitas, katanya, lebih merupakan “sebuah dimensi Gereja,” yang berkaitan dengan misinya untuk “melayani dan menjadi saksi Kerajaan Allah di dunia ini.”
Jika, kata Paus, sekularitas adalah sebuah dimensi Gereja, maka para imam, serta umat awam, dipanggil untuk menghayatinya.
Inspirasi dari Santo Fransiskus
Paus Fransiskus kemudian memuji cara para imam dalam menjalani panggilan sekuler mereka.
Para anggota Institut, katanya, hidup “menurut karisma Fransiskan” dan dengan demikian dibentuk untuk “pelayanan yang rendah hati, siap sedia, dan persaudaraan.”
Mereka juga hidup, katanya, “menurut teladan kedudukan Kristus sebagai raja, yang terdiri dari pelayanan, pemberian diri dengan murah hati, dan solidaritas dengan orang miskin dan orang-orang yang terpinggirkan.”
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: katolikku.com
Artikel Terkait
Proyek Lumbung Pangan Disorot: Anggaran 2025 Dipakai di 2024 & Potensi Kerugian Negara
Iran Ancam Serang Jantung Tel Aviv: Analisis Ancaman Militer & Respons AS
Ledakan di Teheran: Uji Coba Militer Iran di Tengah Ancaman AS dan Eskalasi Ketegangan
SP3 Kasus Ijazah Jokowi: Dampak Restorative Justice pada Eggi Sudjana & Damai Hari Lubis