"Saya merasa lebih baik tentang modal yang kami gunakan di Jepang daripada Taiwan. Dan saya berharap tidak demikian, tapi saya pikir itu kenyataan, "katanya dimuat laman yang sama.
Sementara itu, Ray Dalio, pendiri hedge fund raksasa Bridgewater Associates, juga menulis postingan panjang di LinkedIn April lalu. Ia memperingatkan bahwa A.S. dan China berada di "ambang perang", meski merujuk ke perang sanksi daripada kekuatan militer.
Bagi China, Taiwan adalah bagian dari negrinya. Xi Jinping dengan tegas Sudan mengatakan bahwa Taiwan akan direbut dengan cara apapun.
AS sendiri, meski tak mengakui Taiwan sebagai negara dan berkonsep pada satu China, merupakan pendukung utama Taipe. Sejumlah kunjungan sempat dilakukan untuk menunjukan dukungan termasuk penjualan senjata.
"Ini membuat saya frustrasi," kata analis kebijakan senior Longview Global Dewardric McNeal dalam sebuah wawancara dengan CNBC International menanggapi sikap tiga pesohor itu.
"Kami telah membicarakan hal ini selama bertahun-tahun, dan kami juga telah mencoba memperingatkan agar tidak terlalu bergantung pada China sebagai sumber produk dan produk manufaktur Anda," tegasnya.
"Sejujurnya, adalah menguntungkan bagi China untuk menakut-nakuti investor dari Taiwan dan merusak atau menodai ekonomi itu, karena itu adalah salah satu skenario bahwa mereka dapat membuat Taiwan tunduk tanpa intervensi bersenjata," kata McNeal lagi mencatat Berkshire Hathaway masih memegang saham di BYD, pembuat mobil listrik yang berbasis di Shenzhen, China.
Sumber: cnbc
Artikel Terkait
Dugaan Aliran Uang Rp50 Juta untuk Ibu Menteri Terungkap di Sidang Kasus K3 Kemnaker
Dokumen Epstein Ungkap Hubungan Hary Tanoe & Trump, Misteri Indonesian CIA Terbongkar
Dokumen Epstein Ungkap Kunjungan ke Bali 2002 dan Tautan ke Donald Trump
10 Surat Tanah Tidak Berlaku 2026: Segera Urus Sertifikat di BPN!