"Kalau ada forklift lebih mudah bekerja kalau di tempat tinggi. Tapi dorong, buka tutup pintu peti kemas bukan hanya waktu keluarkan barang, security check juga harus dibuka dan kadang tidak ada yang membantu," ungkapnya.
Baca juga: Nasib Masriah yang Viral karena Siram Air Kencing ke Rumah Tetangga di Sidoarjo, Terancam Penjara
Ia juga mengaku, mereka juga perlu membiasakan diri bergaul dengan supir dan kernet trailer yang mayoritas laki-laki.
Berbekal pengalaman bekerja sebagai pegawai di kantor dan kemudian membantu ibunya membuat kue di rumah, Fatima menikmati bekerja sebagai kernet truk.
"Saya sudah menganggur selama lebih dari setahun. Tidak mudah mencari pekerjaan sekarang, meskipun itu kerja keras dan tidak cocok untuk wanita, itu tetap menjadi sumber rezeki saya."
"Pekerjaan ini adalah cara saya mencari nafkah, tidak peduli panas atau hujan dan bukan pekerjaan di kantor yang ber-AC,� katanya.
Untuk menghilangkan kepenatan, dia dan sepupunya kerap bernyanyi karaoke di sepanjang jalan. mengantarkan barang sampai tujuan.
Selain itu, Fatima juga tidak mempedulikan komentar julid orang atas perannya sebagai kernet.
"Bekerja sebagai sopir tidak memalukan. Saya pernah dihujat karena hanya bisa membuka dan menutup pintu peti kemas."
"Sebenarnya peran kernet banyak membantu pengemudi dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya terhadap perusahaan dan pelanggan."
�Saya tidak peduli apa kata orang."
"Saya hanya berpikir ini pekerjaan halal. Bagi perempuan yang sudah memiliki SIM, kenapa tidak mencoba mengemudi?"
"Dan begitu kernet juga memiliki fungsi, yang penting itu sumber rezeki bagi kami untuk hidup,� tutupnya.
(*)
Sumber: solo.tribunnews.com
Artikel Terkait
Proyek Lumbung Pangan Disorot: Anggaran 2025 Dipakai di 2024 & Potensi Kerugian Negara
Iran Ancam Serang Jantung Tel Aviv: Analisis Ancaman Militer & Respons AS
Ledakan di Teheran: Uji Coba Militer Iran di Tengah Ancaman AS dan Eskalasi Ketegangan
SP3 Kasus Ijazah Jokowi: Dampak Restorative Justice pada Eggi Sudjana & Damai Hari Lubis