Kepada Eurasian Times, Haluk menjelaskan bahwa siapapun yang membeli CH 4 Rainbow tak akan bisa digunakan berperang melawan China.
"Pembatasan tersembunyi dan kinerja di bawah standar drone dari China telah menyebabkan beberapa klien beralih ke UAV Turki, seperti perangkat militer TB2 Bayraktar," ujarnya dikutip dari SCMP pada 17 Mei 2023.
Akibat dari hal ini memang beberapa negara memilih membeli drone buatan Turki.
Haluk yakin jika perusahaannya akan memenangkan ekspor drone melawan China.
"Haluk Bayraktar mencatat bahwa fitur drone China ini telah menyebabkan beberapa pelanggan memilih drone Turki, termasuk Bayraktar TB2.
Ini memungkinkan Turki untuk menyalip China dalam hal ekspor UAV," jelas Haluk.
Indonesia sendiri saat ini disinyalir mengoperasikan enam unit CH 4 Rainbow.
Artikel Terkait
Danantara Ambil Alih 28 Perusahaan di Sumatra, Termasuk Tambang Agincourt Grup Astra
Insiden Paspampres vs Pers Inggris di London: Kronologi Lengkap & Tanggapan Resmi
Indonesia dalam Dewan Perdamaian Trump: Pelanggaran Prinsip Bebas Aktif?
Satpam SMP di Luwu Utara Dihajar Murid Saat Tegur Bolos: Kronologi & Fakta Polisi