Program ini tidak hanya menyajikan pengenalan teknologi Smart Farming tetapi juga menyusun kurikulum DifaGreenTech sebagai panduan dalam pelaksanaan di lapangan. Pendekatan pembelajaran berdiferensiasi diharapkan dapat memperkuat kemandirian dan literasi digital siswa, menciptakan landasan yang kokoh untuk perkembangan mereka di masa depan.
"DifaGreenTech bukan hanya sekadar membawa teknologi ke sekolah ini, tetapi juga memberikan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi setiap siswa. Kami berharap bahwa melalui program ini, siswa SLB Muhammadiyah Kutoarjo dapat mengembangkan keterampilan yang berharga untuk kehidupan sehari-hari dan masa depan mereka," jelas Dr. Siska Desy Fatmaryanti, M.Si.
Kepala Sekolah SLB Muhammadiyah Kutoarjo, An Nisa Latifa, S.Psi, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kontribusi DifaGreenTech.
Menurutnya, hal itu adalah langkah besar bagi pendidikan inklusif di SLB Muhammadiyah Kutoarjo. Kami percaya bahwa DifaGreenTech tidak hanya akan memberikan dampak positif bagi siswa.
"Tetapi juga dapat menjadi model bagi pengembangan SLB berbasis sekolah alam di seluruh Indonesia, terutama di daerah-daerah berbasis pertanian," katanya.
Diharapkan bahwa DifaGreenTech bukan hanya menjadi inovasi lokal, melainkan juga langkah awal yang signifikan dalam membawa perubahan bagi pendidikan inklusif di Indonesia, khususnya di SLB berbasis pertanian.
"Program ini diharapkan dapat memberikan inspirasi dan panduan bagi SLB lainnya untuk mengintegrasikan teknologi dan pembelajaran berdiferensiasi guna memaksimalkan potensi setiap siswa," pungkasnya.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: klikindonesia.co.id
Artikel Terkait
Polisi di Asahan Tabrak 4 Motor dan Kabur: Kronologi Lengkap & Penyelesaian Damai
Viral Petugas Kemenhub Dituding Pungli Rp150 Ribu ke Relawan Bantuan Aceh, Ini Fakta dan Bantahannya
Ayah Prada Lucky Ditangkap TNI: Kronologi KDRT, Penyebab, dan Penjelasan Resmi Kodam
Istri di Konawe Diceraikan Suami PPPK yang Hamili Rekan Kerja: Kronologi & Dampak Hukum