Wacana Koalisi Permanen Golkar Dinilai Hanya Jargon Politik
Wacana Partai Golkar tentang pembentukan koalisi permanen dinilai hanya akan berakhir sebagai jargon politik belaka. Sejarah mencatat, partai berlambang pohon beringin ini justru kerap menjadi pihak yang paling tidak konsisten dalam menjaga komitmen koalisi.
Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, menegaskan bahwa watak politik Golkar sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sarat dengan inkonsistensi dan kecenderungan untuk membelot dari barisan pendukung pemerintah.
"Golkar bicara koalisi permanen, tapi justru Golkar sendiri yang selama ini membuat koalisi rapuh. Kalau kita belajar dari sejarah politik era reformasi, polanya selalu berulang," kata Efriza dalam keterangannya.
Artikel Terkait
Fenomena Tembok Ratapan Solo di Google Maps: Dampak dan Ancaman bagi Elektabilitas PSI
Analisis Kritis: Mengapa Pernyataan Jokowi Soal Revisi UU KPK 2019 Dinilai Problematic?
Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029? 3 Alasan Analisis Pengamat
Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Bongkar 4 Fitnah: LGBT, Sewa LC, Korupsi, hingga Politik