Meski begitu, Anies mengaku tetap menghormati hak para surveyor dalam memaparkan data temuannya. Baginya, hal itu bisa dijadikan sebagai pemicu semangatnya untuk semakin bekerja keras memenangkan kontestasi demokrasi lima tahunan.
"Yaa tapi tidak apa-apa, itu haknya surveyor. Saya melihat ini sebagai pemicu untuk kita kerja lebih keras, menjangkau semua dan mengajak untuk berkompetisi dalam rekam jejak, gagasan dan karya," pungkasnya.
Sebelumnya, hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebutkan elektabilitas Anies di bulan Mei 2023 kali ini cenderung stagnan. Anies tetap berada di posisi ketiga dari capres lainnya.
Disebutkan, tren elektabilitas Anies selalu berada di bawah Prabowo dan Ganjar. Namun, mantan Mendikbud itu bisa menjadi kuda hitam bagi lawan politiknya seperti Pilkada 2017 silam.
"Namun pilkada DKI Jakarta tahun 2017 menunjukan bahwa H-9 bulan, Anies pun di posisi buncit dalam pertarungan 3 calon. Namun akhirnya lolos putaran kedua, dan mengalahkan Ahok di Putaran kedua," ujar Peneliti senior LSI Denny JA, Adjie Alfaraby dalam rilis survei yang dilakukan Jumat kemarin (19/5).
Sumber: rmol.
Artikel Terkait
Rocky Gerung: Jokowi Tak Bisa Tenang Sebelum Kasus Ijazah & Hukum Keluarga Terbukti
Eggi Sudjana Sebut Roy Suryo Belagu Soal Kasus Ijazah Jokowi: Analisis & Daftar Tersangka Terbaru
Kontroversi Ijazah Jokowi: Rektor UGM Sebut 2 Tanggal Lulus Berbeda, Mana yang Benar?
Reshuffle Kabinet Prabowo: Strategi Lepas dari Geng Solo dan Bayang-Bayang Jokowi?