Rinny mengatakan rencana Jokowi adalah untuk membuat PKB dan Partai NasDem bergabung pada koalisi Prabowo Subianto, yang berbeda dengan rencana Gerindra untuk melibatkan PDIP agar bisa menyeimbangkan kekuatan di parlemen.
"Dalam kondisi koalisi sekarang ini, posisi Gerindra dan Pak Prabowo ada di bawah tekanan Partai Golkar, partai terbesar di koalisi, makanya dengan kehadiran PDIP yang punya suara di atas Golkar tapi bukan pendukung awal pasangan Prabowo-Gibran, keseimbangan di dalam koalisi bakal lebih bisa dikendalikan oleh Partai Gerindra, partai utama pemerintah," ucapnya.
"Di sisi lain kita tahu juga kalau Pak Jokowi ini sudah punya rencana lain buat koalisi Pak Prabowo, dan itu sama sekali tidak melibatkan PDI Perjuangan, Pak Jokowi tampaknya lebih memilih PKB-nya Cak Imin dan Partai NasDem-nya Pak Surya Paloh buat bergabung," imbuhnya, dikutip populis.iddari YouTube 2045 TV, Senin (25/3).
Melansir dari Republika, dalam pemilihan legislatif (pileg), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) meraih suara tertinggi dari hasil rekapitulasi di 84 daerah pemilihan (dapil).
Berikut raihan suara partai politik untuk pileg 2024:
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 16.115.655 suara atau 10,61 persen.
Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) 20.071.708 suara atau 13,22 persen.
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 25.387.279 suara atau 16,72 persen.
Partai Golongan Karya (Golkar) meraih 23.208.654 suara atau 15,28 persen.
Partai Nasdem 14.660.516 suara atau 9,65 persen.
Partai Buruh 972.910 suara atau 0,64 persen.
Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) 1.281.991 suara atau 0,84 persen.
Artikel Terkait
Gus Yahya Dikukuhkan Kembali sebagai Ketua Umum PBNU, Muktamar Ke-35 NU Dijadwalkan 2026
Kekeliruan Rektor UGM Soal Tanggal Lulus Jokowi: Fakta dan Kronologi Lengkap
TPUA Klaim Eggi Sudjana & Damai Hari Lubis Resmi Bergabung dengan Kubu Jokowi
Desakan Copot Erick Thohir dari Menpora: Kinerja Kepemudaan Dipertanyakan, PP Himmah Soroti Indonesia Emas 2045