"Bantuan itu bisa diserahkan tanpa izin, tanpa ribut, dan tanpa klaim berlebihan. Yang penting sampai ke masyarakat," tegas Maruli. Ia menekankan bahwa yang dibutuhkan korban adalah kehadiran dan kepedulian nyata, bukan sekadar logo besar pada paket bantuan.
Pentingnya Ketulusan dalam Aksi Kemanusiaan
Sindiran KSAD Maruli Simanjuntak ini dinilai sebagai pengingat keras bagi semua pihak, baik individu maupun lembaga, untuk menempatkan kepentingan kemanusiaan di atas segala-galanya. Praktik "bantuan seremonial" hanya mengalihkan fokus dari penderitaan korban.
Sebagai institusi yang rutin terlibat dalam penanganan darurat, TNI AD mengedepankan kerja nyata di lapangan seperti distribusi logistik, evakuasi, dan pemulihan, tanpa perlu publisitas berlebihan.
Respons Publik dan Harapan ke Depan
Pernyataan KSAD ini menuai respons luas dan sejalan dengan meningkatnya tuntutan transparansi serta ketulusan dalam aksi sosial. Publik semakin kritis terhadap donasi yang terkesan sebagai alat pencitraan.
Harapannya, ke depan, setiap bantuan bencana dapat tersalurkan dengan ikhlas, efisien, dan tepat sasaran, memastikan bahwa bantuan benar-benar menjadi solusi, bukan sekadar pertunjukan.
Artikel Terkait
Korupsi Tambang dan Sawit Rugikan Negara Rp186,48 Triliun, Menteri Keuangan Akan Gunakan AI
Ustaz Abdul Somad Unggah Penolakan Ceramah, Tersangka Korupsi Haji Gus Yaqut Jadi Sorotan
Gus Yahya PBNU Buka Suara Soal Adiknya, Gus Yaqut, Jadi Tersangka Korupsi Kuota Haji
BNPB Hentikan Pencarian Korban Bencana Sumut & Sumbar 2026: Data Korban & Status SAR