Selain bersikukuh pada program pengayaan, Iran juga membatasi agenda perundingan secara ketat. Teheran hanya bersedia membahas isu nuklir dan secara tegas menolak untuk memasukkan program rudal balistik atau kemampuan militer pertahanannya ke dalam pembahasan. "Pembicaraan ini murni soal nuklir. Program misil sama sekali tidak ada di meja perundingan," tegas diplomat tersebut.
Ganjalan Besar bagi Diplomasi AS
Sikap keras Iran ini menjadi tantangan besar bagi Amerika Serikat. Washington menilai penghentian atau pembatasan signifikan terhadap pengayaan uranium adalah langkah kunci untuk membangun kepercayaan dan mencegah potensi pengembangan senjata nuklir. "Amerika menginginkan kemajuan nyata, bukan sekadar dialog tanpa konsesi," kata sumber diplomatik itu.
Meski perundingan belum dinyatakan gagal, perbedaan posisi antara kedua negara masih sangat lebar. Iran tetap bertahan pada prinsip kedaulatan dan keamanan nasional, sementara AS mendesak adanya langkah-langkah konkret sebagai prasyarat untuk melanjutkan negosiasi.
Jalan Panjang Menuju Kesepakatan Nuklir
Isu program nuklir Iran telah lama menjadi sumber ketegangan utama dalam politik global dan keamanan kawasan Timur Tengah. Meski upaya diplomasi terus dilakukan untuk mencegah eskalasi, penolakan keras Iran terhadap permintaan AS mengenai pengayaan uranium menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan yang komprehensif masih panjang dan dipenuhi hambatan yang signifikan.
Artikel Terkait
Tanah Bergerak Tegal: 464 Rumah Rusak, 2.426 Jiwa Mengungsi - Update & Rencana Relokasi
Prabowo Bangun Gedung 40 Lantai untuk MUI & Baznas di Bundaran HI, Ini Rencananya
Gelagat Syauqi Terekam CCTV: Bawa Panci, Beli Racun Tikus, hingga Racuni Ibu & 2 Saudara di Warakas
Pesulap Merah Poligami? Fakta Ditinggalkan Istri Sakit Hingga Meninggal Dibongkar Adik Ipar