“Karena dengan kondisi relasi politik saat ini, misalnya Prabowo yang tidak harmonis dengan PDIP, maka akan sulit bagi keduanya jika sampai Anies melaju di putaran kedua. Peluang menang bagi Anies akan semakin besar jika lolos ke putaran kedua,” tandasnya.
Pertama, ujar Dedi, jika Anies berhadapan dengan Prabowo, maka PDIP sangat mungkin tidak akan bergabung dengan Prabowo. “Artinya kekuatan Prabowo akan stabil, sementara Anies memungkinkan mendapat tambahan mitra. Kedua, jika Anies berhadapan dengan Ganjar, koalisi di Prabowo juga memungkinkan untuk menghindari PDIP, utamanya Gerindra. Sehingga Anies tetap berpeluang menambah mitra,” paparnya.
“Situasi yang ada, bisa saja mereplikasi Pilkada DKI Jakarta, di mana Anies mampu unggul di putaran kedua meskipun pada masa kampanye selalu berada di posisi ketiga,” lanjut dia.
Dedi mengemukakan, pengalaman Anies saat menghadapi pilkada DKI Jakarta lalu menjadi bukti sahih bahwa elektabilitas dalam survei begitu dinamis.
“Terlebih Anies miliki pengalaman di pilkada DKI Jakarta di mana elektabilitas dalam survei begitu dinamis. Bahkan, kemudian Anies berhasil mengubah pilihan publik dalam waktu tidak lebih dari beberapa bulan saja,” pungkas Dedi.
Sumber: kumparan
Artikel Terkait
Dokumen Epstein Ungkap Hubungan Hary Tanoe & Trump, Misteri Indonesian CIA Terbongkar
Dokumen Epstein Ungkap Kunjungan ke Bali 2002 dan Tautan ke Donald Trump
10 Surat Tanah Tidak Berlaku 2026: Segera Urus Sertifikat di BPN!
5 Rekomendasi Bare Metal Server Terbaik 2024 untuk SaaS dan Startup