Kritik Ahok lebih dalam lagi. Ia menyatakan bahwa sebagian pihak memandang Pilkada bukan sebagai kompetisi program, melainkan ajang adu kecurangan. "Pilkada ini adalah keunggulan curang, bukan keunggulan menjual program untuk rakyat," ujarnya yang langsung viral.
Ahok menilai, sistem yang transparan dan melibatkan rakyat langsung justru dipersulit karena mempersempit ruang untuk kecurangan. Banyak elite politik, menurutnya, merasa nyaman dengan sistem tertutup yang memberi celah manipulasi.
Pertanyaan Mendasar: Mengapa Ingin Kembali ke Sistem Lama?
Ahok mempertanyakan logika mundur ke sistem lama. Ia berargumen bahwa jika ada masalah seperti biaya politik mahal atau politik uang, solusinya adalah memperbaiki sistem yang ada, bukan kembali ke mekanisme yang lebih rentan manipulasi.
"Kalau kita kasih kepada rakyat ada masalah, kita perbaiki dong. Masa balik yang lama? Lucu juga kan," sindirnya. Ia menyebut langkah kembali ke Pilkada DPRD sama dengan "mematikan demokrasi perlahan-lahan" dan mengorbankan kedaulatan rakyat.
Dari seluruh paparannya, Ahok menyimpulkan bahwa tantangan terbesar adalah kemauan politik untuk menjalankan sistem secara bersih. Prinsip utamanya jelas: kekuasaan publik adalah hak rakyat, bukan komoditas transaksi segelintir elite. "Kalau sistemnya diperbaiki, enggak ada alasan kembali ke model lama yang menguntungkan segelintir orang," pungkas Ahok.
Artikel Terkait
Kuasa Hukum Roy Suryo Sindir Eggi & Damai Temui Jokowi: Ada Pejuang, Ada Pecundang
Roy Suryo Sindir Pertemuan Eggi Sudjana dengan Jokowi: Cuma Segitu Toh Akhirnya
Pertemuan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis dengan Jokowi di Solo Dikonfirmasi: Fakta dan Kronologinya
6 Versi Ijazah Jokowi Menurut Dokter Tifa: Benarkah Ada dari Polda Metro Jaya?